Jumat, 10 Mei 2019

SUMBER DAKWAH ISLAM


SUMBER DAKWAH ISLAM

Moch. Raffka Yusuf S
Fakultas Dakwah Dan Komunikasi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
raffkasyarief @gmail.com


Abstrak
Agama islam yang memiliki pegangan hidup yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, yang mana jikalau kita berpegang teguh pada keduanya tidak akan tersesat kepada jalan yang salah. Begitu juga dalam berdakwah. Al-quran dan as-sunnah sebagai sumber rujukkan yang relevan dan terjamin kebenarannya. Karena al-quran merupakan kalamullah yang pasti akan dijaga keasliannya oleh Allah, dam dalam  keduanya terdapat cara-cara atau metode, dan struktur yang benar dalam  menyampaikan materi dakwah dari seorang da’i yang akan disampaikan kepada para mad’u,  yang mana kalau  metode pada keduanya {quran-sunnah} dijalankan dengan baik, maka akan tercipta dakwah yang baik, terarah, dan sukses dalam menggiring manusia kepada jalan Allah dengan kaffah. 

Kata Kunci
Sumber, metode, dakwah

Abstract
Islamic religion has a life hold, namely the quran and the Sunnah, which if we cling to both will not get lost on the wrong path. Likewise in preaching. Al-Quran and as-Sunnah as sources of reference are relevant and guaranteed to be true. Because the Qur'an is the kalamullah which will certainly be preserved authenticity by Allah, the dam in both there are ways or methods, and the correct structure in delivering the da'wah material from a preacher will be delivered to the mad'u, which method in both {quran-sunnah} it is carried out well, it will create a good, directed and successful da'wah in bringing people to Allah's path in a way that is faithful.





A.    PENDAHULUAN
Dakwah memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Karena itu merupakan sebuah kewajiban bagi orang muslim yang mukalaf. Sumber  ilmu dakwah adalah Al-qur’an, As-Sunnah, serta hasil ijtihad. Al-quran diyakini sebagai sumber segala ilmu dakwah. Dengan kata lain, al-quran dapat dikatakan sebagai kitab al-dakwah, karena didalamnya terdapat isyarat sekaligus syarat yang jelas mengenai apa, bagaimana, dan untuk apa kegunaan dakwah islamiyah. Dakwah sendiri bertujuan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan watak dasar manusia sebagai makhluk yang mencintai kebenaran serta keinginan yang menjadikan kebenaran sebagai dasar, cara, dan tujuan hidupnya. Menurut pendekatan teologis, dakwah mempunyai paling sedikit tiga tujuan utama, yaitu al-khayr {kebaikan}, al-ma’ruf {kebaikan}, dan sabil al-rabbik {jalan Tuhanmu}.

Al-Khayr {kebaikan}
Al-hayr berarti kebaikan yang bersifat universal, yang berlaku untuk semua manusia di semua tempat dan waktu. Nurcholish Madjid {2013}. Menjelaskan pengertian al-khayr sebagai kebaikan yang asasi, fundamental, normatif, universal, serta tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Ini adalah ide-ide yang paling dasar sebagai ciri dari semua agama Allah, yaitu bahwa kebaikan merupakan suatu nilai yang menjadi titik temu semua agama yang benar. Misalnya tauhid dan ketentuan-ketentuan dasar mengenai budi pekerti yang luhur atau al-akhlaq al-karimah.
Keterikatan dakwah dengan al-khayr berarti mengusahakan dua hal; pertama, menangkap makna al-hayr, yaitu menemukan ajaran pokok al-quran pada level highgeneralization. Kedua, mengimplementasikan al-hayr dalam al-ma’ruf sebagai pengejawantahan al-hayr. Dalam memahami konsep al-ma’ruf, para ulama mengaitkan kata ma’ruf dengan ‘urf {adat}, yaitu suatu kebaikan yang telah menjadi adat manusia. Dengan kata lain, al-ma’ruf adalah kebaikan yang berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu. Maka dari itu, konsep al-ma’ruf dapat berubah mengikuti perubahan adat istiadat.
Istilah al-khayr berkaitan pula dengan istilah lain, yaitu al-birr {kebaikan dalam konteks kepribadian secara menyeluruh}, al-ma’ruf {kebaikan dalam konteks adat-istiadat}, dan al-hasan {kebaikan dalam konteks kualitas perbuatan}. Sebagaimana terdapat dalam hadits berikut :

عن النواس بن سمعا ن الانصاري قال سا لت ر سول الله صلئ الله عليه وسلم عن البر والاثمم فقال البر حسن الخلق والاثم ما حا ك في صدرك وكرهت ان يطلع عليه ا لنا س

Artinya: Dari An-nawwas bin Mis’an al-anshari berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang arti kebajikan dan dosa. Sabda beliau : “kebajikan itu ialah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa itu adalah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan engkau sendiri benci jika perbuatanmu itu diketahui orang lain.” [HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibni Hibban].

Hadits Abu Mas’ud Al-Anshari
عن ابي مسعود الانصا ري قال فقال رسول الله صل الله عليه وسلم من دل على خير فله مثل اجر فا عله      

Artinya: dari Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: “Rasulullah saw bersabda.”barang siapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan fahala seperti orang yang melakukannya. [HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Hibban].

Hadits Abu Umamah Al-Bahili
عن ابي امامه ا لبا هلي ثم قال رسول الله عليه وسلم ان الله وملا ئكته واهل السموات والارضين حتى النملة في جحرها وحتى الحو ت ليصلون على معلم الناس الخير

 Artinya: kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya: sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. Tirmidzi]

Hadits Shuhaib
عن صهيب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  عجبا لائمر المؤمن ان امره كله خير وليس ذاك لاءحد الا للمؤمن ان اصا بته سراء شكر فكان خيرا له وان اصا بته ضراء صبر فكان خيرا له

Artinya: dari Shuhaib berkata: sungguh mengagumkan urusan kehidupan seorang mukmin, semua urusannya itu selalu baik, dan semua itu tidak dijumpai dalam masyarakat laian nya, yaiyu jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi baik baginya, dan apabila ia mendapat kesulitan, ia bersabar dan itu menjadi baik baginya. [HR. Muslim].

Kebaikan adalah perilaku yang mendatangkan ketentraman, karena menjamin adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban pihak-pihak dalam suatu interaksi. Pihak-pihak dalam interaksi itu terjaga statusnya sebagai subjel yang setara. Sedangkan kejahatan adalah perilaku yang mengutamakan hak dan mengabaikan kewajiban, bahkan memanipulasi hak yang sesungguhnya bukan haknya, atau menolak kewajiban yang harus dilakukannya. Perilaku ini dipastikan akan membuat pihak lain merasa terganggu. Hubungan antara pihak-pihak dalam kejahatan adalah hubungan subjek-objek.

Al-Ma’ruf {kebaikan}
Al-ma’ruf adalah kebaikan yang dikenal dan mempunyai kaitan dengan al-urf atau adat-istiadat. Berbeda dari al-hayr, al-ma’ruf tidak bersifat universal, tetapi kontekstual, yaitu kabaikan dalam konteks adat-istiadat atau budaya komunitas tertentu. Misalnya, menghormati orang lain adalah kebaikan universal yang disebut akhlak. Sedangkan menghormati dengan cara mencium tangan adalah kebaikan yang berkaitan dengan adat-istiadat yang disebut etika sosial. Dengan demikian, al-ma’ruf merupakan implementasi al-khayr. Lawan kata al-ma’ruf ialah an-munkar, yaitu suatau keburukan yang bertentangan dengan nilai-nilai  etika sosial.

عن حديفة بن اليمان عن النبي صلى الله عليه وسلم قال والذي نفسي بيده ا

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman dari Nabi saw. Berkata: Demi yang jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalian betul-betul harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar, atau Allah betul-betul akan mengirimkan kepada kalian siksaan dari-Nya, lalu kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan do’a kalian. [HR. At-Tirmidzi].

“Baik” menurut etika adalah sesuatau yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga dan tidak berguna bagi tujuan adalah buruk. Pengertian baik dan buruk ada yang bersifat subjektif dan relatif. Artinya, baik bagi seseorang dan golongan, belum tentu baik bagi seseorang atau golongan lain. Akan tetapi, secara objektif, walaupun tujuan orang-orang atau golongan itu berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semua tujuannya sama, yaitu sebagai tujuan akhir dari segala yang dicitakan. Dengan kata lain, semua lapangan kegiatan manusia, walaupun berbeda-beda, semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitau baik dan bahagia. Tujuan yang baik dan sama tersebut dalam etika disebut dengan “kebaikan tinggi” atau “kebahagiaan universal” {Rakhmat, Sistem Etika Islami, 1985}.

Kebaikan yang sejati adalah mengimani Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan nabi-nabi. Mengorbankan sebagian harta untuk membantu kerabat, menjamin masa depan anak yatim dan mengurangi kemiskinan, orang yang dalam perjalanan, orang yang meminta bantuan, membebaskan segala jenis perbudakan, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan janji, bersabar ketika ditimpa kesempitan dan penderitaan, serta peperangan [dalam al-baqarah : 177}. Kebaikan tersebut dapat diraih oleh semua orang, baik yang beragama Yahudi, Nasrani, maupun penyembah berhala {dalam al-baqarah :62}.

Sabil Al-Rabbik {jalan Tuhanmu}
Secara bahasa, kata sabil berarti jala raya. Secara istilah, sabil ialah jalan yang benar sesuai petunjuk. Kata ini berkaitan dengan huda {petunjuk}. Orang yang mengikutri jalan Tuhan disebut al-muhtaddin {dalam QS-An-Nahl: 125}. Sabil al-rabbik {sabilirabbik}, disebut juga sabil Allah {Sabilillah}.

“serulah {manusia} kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” {QS. An-Nahl[16]: 125}.

Berikut adalah hadits tentang jalan dan petunjuk, diantaranya :

1.      Hadits Abu Hurairah
Artinya: Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada jalan kebaikan {petunjuk}, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa sebanyak dosa yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. {HR. Muslim}.

2.      Hadits Anas Bin Malik
Artinya: Dari Anas Bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Pergi dan kembali di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. {HR. Ibnu Majah}.

Manusia dalam hidupnya diibaratkan orang yang berjalan di jalan raya, dari suatu tempat asal menuju tempat tujuan. Untuk mencapai tujuan, terdapat dua pilihan jalan yang dapat ia tempuh. Pilihan tersebut sangat berkaitan dengan tujuan hidupnya. Pertama, tujuan hidup berupa kepuasan hawa nafsu. Maka jalan yang ditempuh adalah menghalalkan segala cara tanpa hukum dan etika. Atau berpura-pura mentaati hukum dan etika dengan menafsirkan sedemikian rupa untuk mengabsahkan keburukan yang dilakukannya. Pilihan ini selalu menyertakan pihak lain yang dirugikan.
Tujuan hidup seperti itu hanyalah fatamorgana, laksana seseorang yang sedang kehausan di padang pasir, kemudian melihat ada telaga di depannya. Namun, ketika ia mendatanginya tidak ada apa pun. Ini adalah kepuasan palsu. Setiap kali tujuan tercapai, pada saat yang sama ia tidak mendapatkan kepuasan itu. Ibara seseorang meminum air laut , semakin banyak meminum air lautnya, maka akan semakin terasa haus. Inilah jalan setan.
Kedua, tujuan hidup berupa kepuasan nilai kebaikan. Maka jalan yang ia tempuh adalah hidup dengan mematuhi nilai-nilai aturan, etika, dan kemanusiaan. Setiap kali berhasil melaksanakan aturan dan etika, ia merasakan kehadirannya bermakna. Dan pada saat yang sama membuat orang lain merasa senang serta terbantu atas kehadirannya. Inilah jalan hidup Tuhan. Pilihan ini selalu menyertakan pihak lain yang diuntungkan.

Berkaitan dengan dua jalan hidup tersebut, Nabi Saw bersabda:
Artinya: Dari Jabir berkata: kami duduk bersama Nabi Saw., lalu beliau membuat garis di depannya dan bersabda “Ini adalah jalan Allah ‘Azzawalla”. Sedangka dua garis di kanannya dan dua garis di sisi kirinya. Beliau bersabda: “Ini adalah jalan setan”. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis hitam, lalu membaca ayat. “dan yang kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya, yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa. {HR. Ahmad dan Ibnu Majah}.

B.     PEMBAHASAN
Hakikat Dakwah
Dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata da’wah, yang bersumber pada kata دعا- يدعو-دعوة yang bermakna seruan, panggilan undangan, atau doa. Abdul Azizi menjelaskan , bahwa dakwah bisa berarti memanggil, menyeru, menegaskan atau membela sesuatu, perbuatan atau perkataan untuk menarik manusia kepada sesuatu, dan memohon dan meminta.
Dengan demikian, dakwah adalah upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju jalan Allah SWT.  Pemahaman ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 108. Sedangkan yang dimaksud ajakan kepada Allah berarti ajakan kepada agama-Nya, yaitu al-islam. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali-Imran ayat 19. Dalam ayat lain terdapat perintah Allah untuk menegakkan dakwah dengan menggunakan redaksi lain, yaitu: al-khayr, seperti terdapat dalam surah Ali Imran ayat 104. Sedangkan al-khayr, menurut para mufasir adalah al-islam dalam arti yang seluas-luasnya yaitu agama semua nabi sepanjang zaman.
Dari beberapa pengertian  tersebut dapat diambil suatu pemahaman bahawa dakwah adalah proses islamisasi {islamization process}, yaitu upaya mempertahankan keislaman setiapa manusia yang sudah bersilam jauh sebelum lahir ke alam dunia ini. dan mengupayakan orang yang ingkar terhadap isalam agar kembali meyakini dan mengamalkan ajaran islam.
Berdasarkan asumsi tadi, dakwah secara substansial dapat juga diartikan sebagai upaya meningkatkan manusia {al-insan} agar mengingat perjanjian suci di jalan roh {primordial convenant} atau {al-fitri fii’alam ar-ruh} berupa syahadah al-Illahiyah atau pengakuan manusia terhadap eksistensi Allah SWT sebagai rabb-Nya. {surah L-‘Araf ayat 172}. Atas dasar perjanjian suci itu, dalam ajaran islam diyakini bahwa seluruh manusia ketika lahir ke alam dunia dalam keadaan fitrah atau suci membawa tauhidullah {suarah Ar-rum ayat 30}. Akan tetapi manusia berpotensi lupa atau melupakan perjanjian itu. Maka dakwah berfungsi mengingatkan kembali akan perjuangan itu, agar umat manusia tetap dalam keislamannya.
Dalam pandangan Ibnu Taymiyyah, dakwah dalam arti seruan kepada al-islam itu adalah seruan untuk beriman kepada-Nya dan ajaran yang dibawa para utusan-Nya, membenarkan berita yang mereka sampaikan, dan mentaati perintah-Nya. Hal itu mencakupa ajaran untuk mengucapkan dua kaliamah syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan melaksanakan ibadah haji. Juga mencakup ajakan untuk keriman kepada malaikat-Nya, para utusan-Nya, hari kebangkitan, dan beriman kepada qada dan qadar-Nya yang baik maupun yang buruk. Serta ajakan untuk beriman kepada-Nya seolah-olah melihat-Nya.
Syaikh Alin Mahfuzh murid Syaikh Muhammad Abduh, sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu dakwah memberi batasan mengenai dakwah sebagai: “membangkitkan kesadaran manusia diatas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan, kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dengan demikian, dakwah adalah usaha penyebaran dan pemerataan ajaran agama di samping amar ma’ruf dan nahi munkar. Terhadap umat islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok, yakni dakwah, amar ma’ruf, dan nahi munklar. Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau umat yang menang.
Mengenai tujuan dakwah, pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam surah Al-Anfal ayat 24. Dikatan bahwa yang menjadi dimaksud dari dakwah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarya. Hidup bukanlah hanya sekedar makan, minum, dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah SWT: Artinya: ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu {Muhammad} agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, {yaitu} menuju Tuhan yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. {QR. Ibrahim: 1}.

Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan menyajikan ajaran islam secara sempurna. Metode yang diterapkan dalam  menyampaikan  amar ma’ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus beruba-rubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para da’i.amar ma’ruf nahi munkar tidak bertujuan untuk memaksa fitrah seseorang untuk tunduk dan mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.
Keketegasan dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode tadarruj {berharap} agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di masyarakat. Selain itu harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan yang kecil bisa menimbulkan kerusuhan dalam satu umat dengan social cost yang tinggi. Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dan bisa diterapkan dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat:

1.      Hendaknya amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar tidak berubah menjadi penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain. Ingatlah kerika Allah berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan lembut kepada Fir’aun {Surah Thoha ayat 44}.
2.      Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang lain, seorang muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri. Sebab cara amar ma’ruf nahi munkar yang baik adalah fiiringi dengan keteladanan.
3.      Menyampaikan dengan dasar keikhlasan karena mengharap ridho Allah semata, bukan mencari popularitas.
4.      Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan meruju/bersumber dari al-quran dan as-sunnah, serta diimplementasikan dalam masyarakat secara berkesinambungan.
Dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi maunkar para da’i dituntut memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun kepada masyarakat dan negara. Beranggung jawab kepada Allah berarti bahwa dakwah yang dilakukan harus benar-benar ikhlas dan sejalan dengan yang telah digariskan dalam al-quran dan as-sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat berarti dakwah islamiyahnya memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial umat yang bersangkutan. Bertanggung jawab kepada negara berarti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatiak kaidah hukum yang berlaku di negara di mana dia berdakwah.
Disamping itu, dalam al-quran diisyaratkan bahwa dakwah bermakna mengajak segenap umat manusia meyakini dan mengamalkan al-islam secara kaffah {surah al-baqarah ayat 208}. Sedangkan yang dimaksud al-islam yang kaffah adalah tercapainya isi, substans, dan esensi ajaran al-islam itu sendiri, yaitu al-islam yang secara teologis berarti jalan untuk berserah diri kepada Allah dan mengikuti segala sistem ajaran-Nya serta menjauhi segala laranganNya. Serta al-islam yang secara sosiologis, mampu memberikan kedamaian {salam}, dan kejauhan {silam} serta kesejahteraan dan kesentisaan {salamah}, bahkan tercapainya peningkatan kualitas hidup yang utuh dan komprehensip bagi umat manusia di dunia dan di akhirat {sullam}.
Selanjutnya, bentuk-bentuk metode dakwah baerdasarkan isyarat al-quran, setidaknya ada 17 metode dakwah, yaitu:
1.      Metode Hikmah
Hikmah beararti ilmu, filsafat, wisdom, faedah dibalaik sesuatu dan bijaksana. Menurut para ahli, hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil.
2.      Metode Mau’idzah al-hasanah
Memberi nasihat atau pelajaran.
3.      Metode Mujadalah
Meluruskan pendapat yang salah yang tidak sesuai dengan al-quran dan as-sunnah.
4.      Metode Di’ayat ila al-khayr
Mendakwahkan al-islam dengan cara mengajak pada kebaikan dan bersifat persuasif eduktif.
5.      Metode Amr bi al-ma’ruf
Membina kualitas keimanan dan keislaman umat yang sudah menganut al-islam.
6.      Metode Nahi bi al-munkar
Mendakwahkan islam dengan cara preventif, menyingkirkan dan penolakan atas segala bentuk “penyakit” yang dapat merusak islam, baik yang datangnya dari luar islam ataupun dari dalam islam.
7.      Metode Tasyhid
Pembuktian atau percontohan, di mana da’i menjadi pengamal awal islam.
8.      Metode ibda bi al-nafsik
Mendakwahi manusia dengan cara mewakili memperingatkan terhadap disi sendiri atau internalisasi islam pada tingkat pribadi.
9.      Metode naz al-‘alamiy
Mendakwahi manusia dengan menyelenggarakan wisata rohani untuk mengamati, memperhatikan, meneliti, dan merenungkan keagungan Allah SWT. Melalui ciptaan-Nya {Tadzabur alam}.
10.  Metode ‘ibarat al-qashash
Menceramahi manusia dengan cara bercermin pada kisah atau ajaran para rasul Allah yang banyak mengandung pelajaran.
11.  Metode amtsal
Mendakwahi manusia dengan cara mengambuil dan memberikan perumpamaan yang positif dari berbagai fenomena alam termasuk keberadaan manusia.
12.  Metode tabsyir
Memberikan kabar gembira dan memberikan daya tarik melalui iming-iming {pahala} dalam mendorong mad’u agar memiliki opyimisme dalam menghadapi hidup dan kehidupan.
13.  Metode tazkiyah
Mendakwahi manusia dengan cara memperbaiki sikap dan mental yang negatif dengan pendekatan taubat dari segala dosa lahir batin.
14.  Metode do’a
Mendakwahi manusia dengan cara berdoa kepada Allah SWT. Agar mereka menerima pesan dakwah sehingga dapat menerima islam.
15.  Metode tasy’ir
Mendakwahi manusia dengan cara mwmperlihatkan syi’ar islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
16.  Metode tanzir
Mendakwahi manusia dengan cara memberikan peringatan, memberikan kabar yang menakutkan dan mengambil tindakan berupa sanksi bagi setiap pelanggar ajaran islam.
17.  Metode tadzkir
Mendakwahi manusia dengan cara menyadarkan dirinyadan menciptakan situai dan kondisi psikologi mad’u yang dapat menggiring ke arah terbentuknya kesadaran beragama.

Unsur-unsur atau Rukun Dakwah
Unsur-unsur dakwah dalam istilah komunikasi, atau disebut rukun dakwah dalam istilah fiqh, yang memiliki makna segala sesuatu yang harus terpenuhi dan jika tidak terpenuhi tidak bisa terjadi suatu kegiatan. Atas dasar pengertian itu, unsur-unsur dakwah satu dengan yang lainnya saling bergantung dalam prosesnya.
Rumusan unsur-unsur dakwah tersebut didasarkan pada definisi Al-quran sebagai sumber ilmu dakwah. Bahwa al-quran adalah: firman Allah yang diturunkan melalui malaikat jibril ke dalam kalbu utusan Allah, Muhammad ibn Abdullah, dengan kata-kata berbahasa arab dengan maknanya agar menjadi argumen atas kerasulan Muhammad sebagai tuntunanhidup manusia, membacanya menjadi ibadah, yang ditulis dalam mushaf yang diawali dengan surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah an-nas, yang sampai kepada kita secara mutawatir, baik tulisan maupun penuturannya, dari satu generasi ke generasi lain yang tetap terjaga dari perubahan dan berlaku sepanjang masa.
Definisi tersebut menjelaskan mengenai proses tanzil al-quran berikut unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Sedangkan unsur-unsur nuzul al-quran antara lain: 1. Allah sebagai subjek {penanzil al-quran}. 2. Al-quran sebagai m,ateri tanzil. 3. Malaikat jibril sebagai media atau wasilah  al-tanzil. 4. Penampakan atau tindakan malaikat jibril dalam penyampaikan wahyu adalah metode atau uslub al-tanzil. 5. Nabi Muhammad saw sebagai objek atau penerima tanzil.
Proses serta unsur-unsur yang terdapat pada tanzil al-quran menjadi isyarat sekaligus syarat berlangsungnya proses dakwah yang simultan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Menurut kajian almu dakwah, terdapat lima unsur dakwah, yaitu: 1. Da’i sebagai penyampai dakwah. 2. Mawadu al-dakwah atau pesan dakwah. 3. Wasilah al-dakwah atau media dakwah. 4. Uslub al-dakwah atau metode dakwah. 5. Mad’u atau objek dakwah.

Dapat digambarkan sebagai berikut:
No
Unsur Nuzul Al-Quran
Posisi Nuzul Al-Quran
  Posisi Ilmu
    Dakwah
   Posisi Ilmu
  Komunikasi
1.
Allah SWT.
           Subjek
  {penanzil al-quran}
Dai {subjek
atau
Pelaku dakwah}
Komunikator
{subjek atau
Pelaku komunikasi}
2.
Al-Quran
Materi tanzil
Maudhu al-
Dakwah {pesan dakwah}
Materi {pesan komunikasi}
3.
Malaikat Jibril
Media tanzil
Wasilah al-
Dakwah {media dakwah}
Media {media
Komunikasi}
4.
Berwujud atau
tidaknya malaikat
jibril
Metode tanzil
Ushlub al-
Dakwah {metode dakwah}
Metode {metode
Komunikasi}
5.
Muhammad Saw.
Objek {penerima
tanzil}
Mad’u {objek dakwah}
Komunikan
{objek komunikasi}


Proses tanzil al-quran berada pada  rentangan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Sebagai isyarat bahwa dakwah memerlukan rentang waktu dan proses dalam dimensi waktu. Ketika al-quran diturunkan, terdapat dua proses, yaitu: menerima dan menolak. Menggambarkan keniscayaan adanya penerimaan dan penolakan terhadap ajakan dakwah.

C.    PENUTUP
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Sumber  ilmu dakwah adalah Al-qur’an, As-Sunnah, serta hasil ijtihad. Al-quran diyakini sebagai sumber segala ilmu dakwah. Dakwah sendiri bertujuan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan watak dasar manusia sebagai makhluk yang mencintai kebenaran serta keinginan yang menjadikan kebenaran sebagai dasar, cara, dan tujuan hidupnya. Atau pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam surah Al-Anfal ayat 24. Dikatan bahwa yang menjadi dimaksud dari dakwah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarya. Hidup bukanlah hanya sekedar makan, minum, dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah SWT: Artinya: ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu {Muhammad} agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, {yaitu} menuju Tuhan yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. {QR. Ibrahim: 1}. Dengan demikian, dakwah adalah upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju jalan Allah SWT.  Selain itu, seorang dai juga harus memiliki cara atau metode yang baik dalam menyampaikan materi dakwah nya. Selain itu, juga harus memperhatikan kondisi sosiologis mad’u. Dengan demikian kalau semua dakwah menggunakan metode atau cara yang baik dalam berdakwah, maka dakwah akan dilakukan dengan mudah dan mad’u akan menerima materi dakwah dengan mudah juga.



DAFTAR PUSTAKA

Tata Sukayat, 2009. Quantum Dakwah. Jakarta: Reka Cipta.
Tata Sukayat, 2015. Ilmu Dakwah. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Chatib Saefullah, 2018. Kompilasi Hadis Dakwah. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media.

Resensi Film : HAFALAN SHALAT DELISA

  Identitas Film Judul Film : Hafalan Shalat Delisa Sutradara : Sony Gaokasak Produser : Chand Parwez Servia Penulis Naskah : Arma...