SUMBER DAKWAH ISLAM
Moch. Raffka
Yusuf S
Fakultas Dakwah
Dan Komunikasi
UIN Sunan
Gunung Djati Bandung
raffkasyarief
@gmail.com
Abstrak
Agama islam
yang memiliki pegangan hidup yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, yang mana jikalau
kita berpegang teguh pada keduanya tidak akan tersesat kepada jalan yang salah.
Begitu juga dalam berdakwah. Al-quran dan as-sunnah sebagai sumber rujukkan
yang relevan dan terjamin kebenarannya. Karena al-quran merupakan kalamullah
yang pasti akan dijaga keasliannya oleh Allah, dam dalam keduanya terdapat cara-cara atau metode, dan
struktur yang benar dalam menyampaikan
materi dakwah dari seorang da’i yang akan disampaikan kepada para mad’u, yang mana kalau metode pada keduanya {quran-sunnah}
dijalankan dengan baik, maka akan tercipta dakwah yang baik, terarah, dan
sukses dalam menggiring manusia kepada jalan Allah dengan kaffah.
Kata Kunci
Sumber, metode,
dakwah
Abstract
Islamic religion has a life hold,
namely the quran and the Sunnah, which if we cling to both will not get lost on the wrong
path. Likewise in preaching. Al-Quran and as-Sunnah as sources of reference are
relevant and guaranteed to be true. Because the Qur'an is the kalamullah which
will certainly be preserved authenticity by Allah, the dam in both there are
ways or methods, and the correct structure in delivering the da'wah material
from a preacher will be delivered to the mad'u, which method in both
{quran-sunnah} it is carried out well, it will create a good, directed and
successful da'wah in bringing people to Allah's path in a way that is faithful.
A.
PENDAHULUAN
Dakwah
memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Karena itu
merupakan sebuah kewajiban bagi orang muslim yang mukalaf. Sumber ilmu dakwah adalah Al-qur’an, As-Sunnah,
serta hasil ijtihad. Al-quran diyakini sebagai sumber segala ilmu dakwah.
Dengan kata lain, al-quran dapat dikatakan sebagai kitab al-dakwah, karena
didalamnya terdapat isyarat sekaligus syarat yang jelas mengenai apa,
bagaimana, dan untuk apa kegunaan dakwah islamiyah. Dakwah sendiri bertujuan
untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan watak dasar manusia sebagai makhluk
yang mencintai kebenaran serta keinginan yang menjadikan kebenaran sebagai
dasar, cara, dan tujuan hidupnya. Menurut pendekatan teologis, dakwah mempunyai
paling sedikit tiga tujuan utama, yaitu al-khayr {kebaikan}, al-ma’ruf {kebaikan},
dan sabil al-rabbik {jalan Tuhanmu}.
Al-Khayr
{kebaikan}
Al-hayr
berarti kebaikan yang bersifat universal, yang berlaku untuk semua manusia di
semua tempat dan waktu. Nurcholish Madjid {2013}. Menjelaskan pengertian
al-khayr sebagai kebaikan yang asasi, fundamental, normatif, universal, serta
tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Ini adalah ide-ide yang paling dasar
sebagai ciri dari semua agama Allah, yaitu bahwa kebaikan merupakan suatu nilai
yang menjadi titik temu semua agama yang benar. Misalnya tauhid dan
ketentuan-ketentuan dasar mengenai budi pekerti yang luhur atau al-akhlaq
al-karimah.
Keterikatan
dakwah dengan al-khayr berarti mengusahakan dua hal; pertama, menangkap
makna al-hayr, yaitu menemukan ajaran pokok al-quran pada level
highgeneralization. Kedua, mengimplementasikan al-hayr dalam al-ma’ruf
sebagai pengejawantahan al-hayr. Dalam memahami konsep al-ma’ruf, para ulama
mengaitkan kata ma’ruf dengan ‘urf {adat}, yaitu suatu kebaikan yang telah
menjadi adat manusia. Dengan kata lain, al-ma’ruf adalah kebaikan yang
berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu. Maka dari itu, konsep al-ma’ruf dapat
berubah mengikuti perubahan adat istiadat.
Istilah
al-khayr berkaitan pula dengan istilah lain, yaitu al-birr {kebaikan dalam
konteks kepribadian secara menyeluruh}, al-ma’ruf {kebaikan dalam konteks
adat-istiadat}, dan al-hasan {kebaikan dalam konteks kualitas perbuatan}.
Sebagaimana terdapat dalam hadits berikut :
عن النواس بن
سمعا ن الانصاري قال سا لت ر سول الله صلئ الله عليه وسلم عن البر والاثمم فقال
البر حسن الخلق والاثم ما حا ك في صدرك وكرهت ان يطلع عليه ا لنا س
Artinya:
Dari An-nawwas bin Mis’an al-anshari berkata: “Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah saw tentang arti kebajikan dan dosa. Sabda beliau : “kebajikan itu
ialah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa itu adalah perbuatan atau tindakan
yang menyesakkan dada, dan engkau sendiri benci jika perbuatanmu itu diketahui
orang lain.” [HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibni Hibban].
Hadits
Abu Mas’ud Al-Anshari
عن ابي مسعود الانصا ري قال فقال رسول الله صل الله عليه وسلم من دل
على خير فله مثل اجر فا عله
Artinya:
dari Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: “Rasulullah saw bersabda.”barang siapa
dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan fahala seperti
orang yang melakukannya. [HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu
Hibban].
Hadits
Abu Umamah Al-Bahili
عن ابي امامه ا
لبا هلي ثم قال رسول الله عليه وسلم ان الله وملا ئكته واهل السموات والارضين حتى
النملة في جحرها وحتى الحو ت ليصلون على معلم الناس الخير
Artinya: kemudian Rasulullah melanjutkan
sabdanya: sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi,
bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai paus, mereka akan mendoakan
untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. Tirmidzi]
Hadits
Shuhaib
عن صهيب قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم عجبا لائمر
المؤمن ان امره كله خير وليس ذاك لاءحد الا للمؤمن ان اصا بته سراء شكر فكان خيرا
له وان اصا بته ضراء صبر فكان خيرا له
Artinya:
dari Shuhaib berkata: sungguh mengagumkan urusan kehidupan seorang mukmin,
semua urusannya itu selalu baik, dan semua itu tidak dijumpai dalam masyarakat
laian nya, yaiyu jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi baik
baginya, dan apabila ia mendapat kesulitan, ia bersabar dan itu menjadi baik
baginya. [HR. Muslim].
Kebaikan
adalah perilaku yang mendatangkan ketentraman, karena menjamin adanya
keseimbangan antara hak dan kewajiban pihak-pihak dalam suatu interaksi.
Pihak-pihak dalam interaksi itu terjaga statusnya sebagai subjel yang setara.
Sedangkan kejahatan adalah perilaku yang mengutamakan hak dan mengabaikan
kewajiban, bahkan memanipulasi hak yang sesungguhnya bukan haknya, atau menolak
kewajiban yang harus dilakukannya. Perilaku ini dipastikan akan membuat pihak
lain merasa terganggu. Hubungan antara pihak-pihak dalam kejahatan adalah
hubungan subjek-objek.
Al-Ma’ruf
{kebaikan}
Al-ma’ruf
adalah kebaikan yang dikenal dan mempunyai kaitan dengan al-urf atau
adat-istiadat. Berbeda dari al-hayr, al-ma’ruf tidak bersifat universal, tetapi
kontekstual, yaitu kabaikan dalam konteks adat-istiadat atau budaya komunitas
tertentu. Misalnya, menghormati orang lain adalah kebaikan universal yang
disebut akhlak. Sedangkan menghormati dengan cara mencium tangan adalah
kebaikan yang berkaitan dengan adat-istiadat yang disebut etika sosial. Dengan
demikian, al-ma’ruf merupakan implementasi al-khayr. Lawan kata al-ma’ruf ialah
an-munkar, yaitu suatau keburukan yang bertentangan dengan nilai-nilai etika sosial.
عن حديفة بن اليمان عن النبي صلى الله عليه وسلم قال والذي نفسي بيده
ا
Dari
Hudzaifah bin Al-Yaman dari Nabi saw. Berkata: Demi yang jiwaku yang berada di
tangan-Nya, kalian betul-betul harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan
melarang dari yang munkar, atau Allah betul-betul akan mengirimkan kepada
kalian siksaan dari-Nya, lalu kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak
mengabulkan do’a kalian. [HR. At-Tirmidzi].
“Baik”
menurut etika adalah sesuatau yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya,
yang tidak berharga dan tidak berguna bagi tujuan adalah buruk. Pengertian baik
dan buruk ada yang bersifat subjektif dan relatif. Artinya, baik bagi seseorang
dan golongan, belum tentu baik bagi seseorang atau golongan lain. Akan tetapi,
secara objektif, walaupun tujuan orang-orang atau golongan itu berbeda-beda,
sesungguhnya pada akhirnya semua tujuannya sama, yaitu sebagai tujuan akhir
dari segala yang dicitakan. Dengan kata lain, semua lapangan kegiatan manusia,
walaupun berbeda-beda, semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitau baik dan
bahagia. Tujuan yang baik dan sama tersebut dalam etika disebut dengan
“kebaikan tinggi” atau “kebahagiaan universal” {Rakhmat, Sistem Etika Islami,
1985}.
Kebaikan
yang sejati adalah mengimani Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan nabi-nabi.
Mengorbankan sebagian harta untuk membantu kerabat, menjamin masa depan anak
yatim dan mengurangi kemiskinan, orang yang dalam perjalanan, orang yang
meminta bantuan, membebaskan segala jenis perbudakan, mendirikan shalat,
mengeluarkan zakat, menunaikan janji, bersabar ketika ditimpa kesempitan dan
penderitaan, serta peperangan [dalam al-baqarah : 177}. Kebaikan tersebut dapat
diraih oleh semua orang, baik yang beragama Yahudi, Nasrani, maupun penyembah
berhala {dalam al-baqarah :62}.
Sabil
Al-Rabbik {jalan Tuhanmu}
Secara
bahasa, kata sabil berarti jala raya. Secara istilah, sabil ialah jalan
yang benar sesuai petunjuk. Kata ini berkaitan dengan huda {petunjuk}. Orang
yang mengikutri jalan Tuhan disebut al-muhtaddin {dalam QS-An-Nahl: 125}. Sabil
al-rabbik {sabilirabbik}, disebut juga sabil Allah {Sabilillah}.
“serulah
{manusia} kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” {QS. An-Nahl[16]: 125}.
Berikut
adalah hadits tentang jalan dan petunjuk, diantaranya :
1.
Hadits Abu
Hurairah
Artinya: Dari
Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada
jalan kebaikan {petunjuk}, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang
diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan
mendapatkan dosa sebanyak dosa yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya
tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. {HR. Muslim}.
2.
Hadits Anas Bin
Malik
Artinya: Dari
Anas Bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Pergi dan kembali di
jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. {HR. Ibnu Majah}.
Manusia
dalam hidupnya diibaratkan orang yang berjalan di jalan raya, dari suatu tempat
asal menuju tempat tujuan. Untuk mencapai tujuan, terdapat dua pilihan jalan
yang dapat ia tempuh. Pilihan tersebut sangat berkaitan dengan tujuan hidupnya.
Pertama, tujuan hidup berupa kepuasan hawa nafsu. Maka jalan yang
ditempuh adalah menghalalkan segala cara tanpa hukum dan etika. Atau
berpura-pura mentaati hukum dan etika dengan menafsirkan sedemikian rupa untuk
mengabsahkan keburukan yang dilakukannya. Pilihan ini selalu menyertakan pihak
lain yang dirugikan.
Tujuan
hidup seperti itu hanyalah fatamorgana, laksana seseorang yang sedang kehausan
di padang pasir, kemudian melihat ada telaga di depannya. Namun, ketika ia
mendatanginya tidak ada apa pun. Ini adalah kepuasan palsu. Setiap kali tujuan
tercapai, pada saat yang sama ia tidak mendapatkan kepuasan itu. Ibara
seseorang meminum air laut , semakin banyak meminum air lautnya, maka akan
semakin terasa haus. Inilah jalan setan.
Kedua,
tujuan hidup berupa kepuasan nilai kebaikan. Maka jalan yang ia
tempuh adalah hidup dengan mematuhi nilai-nilai aturan, etika, dan kemanusiaan.
Setiap kali berhasil melaksanakan aturan dan etika, ia merasakan kehadirannya
bermakna. Dan pada saat yang sama membuat orang lain merasa senang serta
terbantu atas kehadirannya. Inilah jalan hidup Tuhan. Pilihan ini selalu
menyertakan pihak lain yang diuntungkan.
Berkaitan
dengan dua jalan hidup tersebut, Nabi Saw bersabda:
Artinya:
Dari Jabir berkata: kami duduk bersama Nabi Saw., lalu beliau membuat garis di
depannya dan bersabda “Ini adalah jalan Allah ‘Azzawalla”. Sedangka dua garis
di kanannya dan dua garis di sisi kirinya. Beliau bersabda: “Ini adalah jalan
setan”. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis hitam, lalu membaca
ayat. “dan yang kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalannya, yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertaqwa. {HR. Ahmad dan Ibnu Majah}.
B.
PEMBAHASAN
Hakikat
Dakwah
Dakwah
berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata da’wah, yang bersumber pada kata دعا- يدعو-دعوة yang bermakna seruan, panggilan undangan,
atau doa. Abdul Azizi menjelaskan , bahwa dakwah bisa berarti memanggil,
menyeru, menegaskan atau membela sesuatu, perbuatan atau perkataan untuk
menarik manusia kepada sesuatu, dan memohon dan meminta.
Dengan
demikian, dakwah adalah upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju
jalan Allah SWT. Pemahaman ini sejalan
dengan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 108. Sedangkan yang dimaksud ajakan
kepada Allah berarti ajakan kepada agama-Nya, yaitu al-islam. Sebagaimana
dijelaskan dalam QS. Ali-Imran ayat 19. Dalam ayat lain terdapat perintah Allah
untuk menegakkan dakwah dengan menggunakan redaksi lain, yaitu: al-khayr,
seperti terdapat dalam surah Ali Imran ayat 104. Sedangkan al-khayr, menurut
para mufasir adalah al-islam dalam arti yang seluas-luasnya yaitu agama semua
nabi sepanjang zaman.
Dari
beberapa pengertian tersebut dapat
diambil suatu pemahaman bahawa dakwah adalah proses islamisasi {islamization
process}, yaitu upaya mempertahankan keislaman setiapa manusia yang sudah
bersilam jauh sebelum lahir ke alam dunia ini. dan mengupayakan orang yang
ingkar terhadap isalam agar kembali meyakini dan mengamalkan ajaran islam.
Berdasarkan
asumsi tadi, dakwah secara substansial dapat juga diartikan sebagai upaya meningkatkan
manusia {al-insan} agar mengingat perjanjian suci di jalan roh {primordial
convenant} atau {al-fitri fii’alam ar-ruh} berupa syahadah al-Illahiyah atau
pengakuan manusia terhadap eksistensi Allah SWT sebagai rabb-Nya. {surah
L-‘Araf ayat 172}. Atas dasar perjanjian suci itu, dalam ajaran islam diyakini bahwa
seluruh manusia ketika lahir ke alam dunia dalam keadaan fitrah atau suci
membawa tauhidullah {suarah Ar-rum ayat 30}. Akan tetapi manusia berpotensi
lupa atau melupakan perjanjian itu. Maka dakwah berfungsi mengingatkan kembali
akan perjuangan itu, agar umat manusia tetap dalam keislamannya.
Dalam
pandangan Ibnu Taymiyyah, dakwah dalam arti seruan kepada al-islam itu adalah
seruan untuk beriman kepada-Nya dan ajaran yang dibawa para utusan-Nya,
membenarkan berita yang mereka sampaikan, dan mentaati perintah-Nya. Hal itu
mencakupa ajaran untuk mengucapkan dua kaliamah syahadat, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan melaksanakan ibadah haji. Juga mencakup ajakan untuk
keriman kepada malaikat-Nya, para utusan-Nya, hari kebangkitan, dan beriman
kepada qada dan qadar-Nya yang baik maupun yang buruk. Serta ajakan untuk
beriman kepada-Nya seolah-olah melihat-Nya.
Syaikh
Alin Mahfuzh murid Syaikh Muhammad Abduh, sebagai pencetus gagasan dan penyusunan
pola ilmiah ilmu dakwah memberi batasan mengenai dakwah sebagai: “membangkitkan
kesadaran manusia diatas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan
mencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan,
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dengan
demikian, dakwah adalah usaha penyebaran dan pemerataan ajaran agama di samping
amar ma’ruf dan nahi munkar. Terhadap umat islam yang telah melaksanakan
risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok, yakni dakwah, amar ma’ruf,
dan nahi munklar. Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia
atau umat yang menang.
Mengenai
tujuan dakwah, pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam surah Al-Anfal
ayat 24. Dikatan bahwa yang menjadi dimaksud dari dakwah adalah menyadarkan
manusia akan arti hidup yang sebenarya. Hidup bukanlah hanya sekedar makan,
minum, dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang
dijalaninya.
Kedua,
mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan
dalam firman Allah SWT: Artinya: ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu
{Muhammad} agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya
terang-benderang dengan izin Tuhan, {yaitu} menuju Tuhan yang Mahaperkasa, Maha
Terpuji. {QR. Ibrahim: 1}.
Dakwah
dan amar ma’ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan
menyajikan ajaran islam secara sempurna. Metode yang diterapkan dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar tersebut sebenarnya
akan terus beruba-rubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang
dihadapi para da’i.amar ma’ruf nahi munkar tidak bertujuan untuk memaksa fitrah
seseorang untuk tunduk dan mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai,
tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri
seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.
Keketegasan
dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara
yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan
metode tadarruj {berharap} agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di
masyarakat. Selain itu harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang
dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan yang kecil bisa menimbulkan
kerusuhan dalam satu umat dengan social cost yang tinggi. Ada beberapa poin
yang harus diperhatikan dan bisa diterapkan dalam berbagai bentuk kegiatan
masyarakat:
1.
Hendaknya amar
ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar tidak berubah menjadi
penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain. Ingatlah kerika Allah
berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan lembut kepada Fir’aun {Surah
Thoha ayat 44}.
2.
Islam adalah
agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang
lain, seorang muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri. Sebab cara amar
ma’ruf nahi munkar yang baik adalah fiiringi dengan keteladanan.
3.
Menyampaikan
dengan dasar keikhlasan karena mengharap ridho Allah semata, bukan mencari
popularitas.
4.
Amar ma’ruf
nahi munkar dilakukan dengan meruju/bersumber dari al-quran dan as-sunnah,
serta diimplementasikan dalam masyarakat secara berkesinambungan.
Dalam
menyampaikan amar ma’ruf nahi maunkar para da’i dituntut memiliki rasa tanggung
jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun kepada masyarakat dan negara.
Beranggung jawab kepada Allah berarti bahwa dakwah yang dilakukan harus
benar-benar ikhlas dan sejalan dengan yang telah digariskan dalam al-quran dan
as-sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat berarti dakwah
islamiyahnya memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial umat yang
bersangkutan. Bertanggung jawab kepada negara berarti bahwa pengemban risalah
senantiasa memperhatiak kaidah hukum yang berlaku di negara di mana dia
berdakwah.
Disamping
itu, dalam al-quran diisyaratkan bahwa dakwah bermakna mengajak segenap umat
manusia meyakini dan mengamalkan al-islam secara kaffah {surah al-baqarah ayat
208}. Sedangkan yang dimaksud al-islam yang kaffah adalah tercapainya isi,
substans, dan esensi ajaran al-islam itu sendiri, yaitu al-islam yang secara
teologis berarti jalan untuk berserah diri kepada Allah dan mengikuti segala
sistem ajaran-Nya serta menjauhi segala laranganNya. Serta al-islam yang secara
sosiologis, mampu memberikan kedamaian {salam}, dan kejauhan {silam} serta
kesejahteraan dan kesentisaan {salamah}, bahkan tercapainya peningkatan
kualitas hidup yang utuh dan komprehensip bagi umat manusia di dunia dan di
akhirat {sullam}.
Selanjutnya,
bentuk-bentuk metode dakwah baerdasarkan isyarat al-quran, setidaknya ada 17
metode dakwah, yaitu:
1.
Metode Hikmah
Hikmah
beararti ilmu, filsafat, wisdom, faedah dibalaik sesuatu dan bijaksana. Menurut
para ahli, hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang batil.
2.
Metode
Mau’idzah al-hasanah
Memberi
nasihat atau pelajaran.
3.
Metode
Mujadalah
Meluruskan
pendapat yang salah yang tidak sesuai dengan al-quran dan as-sunnah.
4.
Metode Di’ayat
ila al-khayr
Mendakwahkan
al-islam dengan cara mengajak pada kebaikan dan bersifat persuasif eduktif.
5.
Metode Amr bi
al-ma’ruf
Membina
kualitas keimanan dan keislaman umat yang sudah menganut al-islam.
6.
Metode Nahi bi
al-munkar
Mendakwahkan
islam dengan cara preventif, menyingkirkan dan penolakan atas segala bentuk
“penyakit” yang dapat merusak islam, baik yang datangnya dari luar islam
ataupun dari dalam islam.
7.
Metode Tasyhid
Pembuktian
atau percontohan, di mana da’i menjadi pengamal awal islam.
8.
Metode ibda bi
al-nafsik
Mendakwahi
manusia dengan cara mewakili memperingatkan terhadap disi sendiri atau
internalisasi islam pada tingkat pribadi.
9.
Metode naz
al-‘alamiy
Mendakwahi
manusia dengan menyelenggarakan wisata rohani untuk mengamati, memperhatikan,
meneliti, dan merenungkan keagungan Allah SWT. Melalui ciptaan-Nya {Tadzabur
alam}.
10. Metode ‘ibarat al-qashash
Menceramahi
manusia dengan cara bercermin pada kisah atau ajaran para rasul Allah yang
banyak mengandung pelajaran.
11. Metode amtsal
Mendakwahi
manusia dengan cara mengambuil dan memberikan perumpamaan yang positif dari
berbagai fenomena alam termasuk keberadaan manusia.
12. Metode tabsyir
Memberikan
kabar gembira dan memberikan daya tarik melalui iming-iming {pahala} dalam
mendorong mad’u agar memiliki opyimisme dalam menghadapi hidup dan kehidupan.
13. Metode tazkiyah
Mendakwahi
manusia dengan cara memperbaiki sikap dan mental yang negatif dengan pendekatan
taubat dari segala dosa lahir batin.
14. Metode do’a
Mendakwahi
manusia dengan cara berdoa kepada Allah SWT. Agar mereka menerima pesan dakwah
sehingga dapat menerima islam.
15. Metode tasy’ir
Mendakwahi
manusia dengan cara mwmperlihatkan syi’ar islam ditengah-tengah kehidupan
masyarakat.
16. Metode tanzir
Mendakwahi
manusia dengan cara memberikan peringatan, memberikan kabar yang menakutkan dan
mengambil tindakan berupa sanksi bagi setiap pelanggar ajaran islam.
17. Metode tadzkir
Mendakwahi
manusia dengan cara menyadarkan dirinyadan menciptakan situai dan kondisi
psikologi mad’u yang dapat menggiring ke arah terbentuknya kesadaran beragama.
Unsur-unsur
atau Rukun Dakwah
Unsur-unsur
dakwah dalam istilah komunikasi, atau disebut rukun dakwah dalam istilah fiqh,
yang memiliki makna segala sesuatu yang harus terpenuhi dan jika tidak
terpenuhi tidak bisa terjadi suatu kegiatan. Atas dasar pengertian itu,
unsur-unsur dakwah satu dengan yang lainnya saling bergantung dalam prosesnya.
Rumusan
unsur-unsur dakwah tersebut didasarkan pada definisi Al-quran sebagai sumber
ilmu dakwah. Bahwa al-quran adalah: firman Allah yang diturunkan melalui
malaikat jibril ke dalam kalbu utusan Allah, Muhammad ibn Abdullah, dengan
kata-kata berbahasa arab dengan maknanya agar menjadi argumen atas kerasulan
Muhammad sebagai tuntunanhidup manusia, membacanya menjadi ibadah, yang ditulis
dalam mushaf yang diawali dengan surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah
an-nas, yang sampai kepada kita secara mutawatir, baik tulisan maupun
penuturannya, dari satu generasi ke generasi lain yang tetap terjaga dari
perubahan dan berlaku sepanjang masa.
Definisi
tersebut menjelaskan mengenai proses tanzil al-quran berikut unsur-unsur yang
terkandung di dalamnya. Sedangkan unsur-unsur nuzul al-quran antara lain: 1.
Allah sebagai subjek {penanzil al-quran}. 2. Al-quran sebagai m,ateri tanzil.
3. Malaikat jibril sebagai media atau wasilah
al-tanzil. 4. Penampakan atau tindakan malaikat jibril dalam
penyampaikan wahyu adalah metode atau uslub al-tanzil. 5. Nabi Muhammad saw
sebagai objek atau penerima tanzil.
Proses
serta unsur-unsur yang terdapat pada tanzil al-quran menjadi isyarat sekaligus
syarat berlangsungnya proses dakwah yang simultan antara unsur yang satu dengan
unsur yang lain. Menurut kajian almu dakwah, terdapat lima unsur dakwah, yaitu:
1. Da’i sebagai penyampai dakwah. 2. Mawadu al-dakwah atau pesan dakwah. 3.
Wasilah al-dakwah atau media dakwah. 4. Uslub al-dakwah atau metode dakwah. 5.
Mad’u atau objek dakwah.
Dapat
digambarkan sebagai berikut:
No
|
Unsur Nuzul Al-Quran
|
Posisi Nuzul Al-Quran
|
Posisi Ilmu
Dakwah
|
Posisi Ilmu
Komunikasi
|
1.
|
Allah SWT.
|
Subjek
{penanzil al-quran}
|
Dai {subjek
atau
Pelaku dakwah}
|
Komunikator
{subjek atau
Pelaku komunikasi}
|
2.
|
Al-Quran
|
Materi tanzil
|
Maudhu al-
Dakwah {pesan dakwah}
|
Materi {pesan komunikasi}
|
3.
|
Malaikat Jibril
|
Media tanzil
|
Wasilah al-
Dakwah {media dakwah}
|
Media {media
Komunikasi}
|
4.
|
Berwujud atau
tidaknya malaikat
jibril
|
Metode tanzil
|
Ushlub al-
Dakwah {metode dakwah}
|
Metode {metode
Komunikasi}
|
5.
|
Muhammad Saw.
|
Objek {penerima
tanzil}
|
Mad’u {objek dakwah}
|
Komunikan
{objek komunikasi}
|
Proses
tanzil al-quran berada pada rentangan
waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Sebagai isyarat bahwa dakwah memerlukan rentang
waktu dan proses dalam dimensi waktu. Ketika al-quran diturunkan, terdapat dua
proses, yaitu: menerima dan menolak. Menggambarkan keniscayaan adanya
penerimaan dan penolakan terhadap ajakan dakwah.
C.
PENUTUP
Berdasarkan
penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut: Sumber ilmu dakwah adalah
Al-qur’an, As-Sunnah, serta hasil ijtihad. Al-quran diyakini sebagai sumber
segala ilmu dakwah. Dakwah sendiri bertujuan untuk mengembangkan dan
mengaktualisasikan watak dasar manusia sebagai makhluk yang mencintai kebenaran
serta keinginan yang menjadikan kebenaran sebagai dasar, cara, dan tujuan
hidupnya. Atau pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam surah Al-Anfal
ayat 24. Dikatan bahwa yang menjadi dimaksud dari dakwah adalah menyadarkan
manusia akan arti hidup yang sebenarya. Hidup bukanlah hanya sekedar makan,
minum, dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang
dijalaninya.
Kedua,
mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan
dalam firman Allah SWT: Artinya: ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu
{Muhammad} agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya
terang-benderang dengan izin Tuhan, {yaitu} menuju Tuhan yang Mahaperkasa, Maha
Terpuji. {QR. Ibrahim: 1}. Dengan demikian, dakwah adalah upaya memanggil,
menyeru, dan mengajak manusia menuju jalan Allah SWT. Selain itu, seorang dai juga harus memiliki
cara atau metode yang baik dalam menyampaikan materi dakwah nya. Selain itu,
juga harus memperhatikan kondisi sosiologis mad’u. Dengan demikian kalau semua
dakwah menggunakan metode atau cara yang baik dalam berdakwah, maka dakwah akan
dilakukan dengan mudah dan mad’u akan menerima materi dakwah dengan mudah juga.
DAFTAR
PUSTAKA
Tata
Sukayat, 2009. Quantum Dakwah. Jakarta: Reka Cipta.
Tata
Sukayat, 2015. Ilmu Dakwah. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Chatib
Saefullah, 2018. Kompilasi Hadis Dakwah. Bandung:
Simbiosa
Rekatama Media.