Jumat, 13 November 2020

Resensi Film : HAFALAN SHALAT DELISA

 




Identitas Film

Judul Film : Hafalan Shalat Delisa

Sutradara : Sony Gaokasak

Produser : Chand Parwez Servia

Penulis Naskah : Armantono

Pemain Film : Reza Rahardian, Nirina Zubir, Chantiq Schagerl, Fathir Muchtar, Mike Lewis dan lain-lain.

Produksi Film : Kharisma Starvision Plus

Durasi Film : 1 jam (60 menit)

 

Sinopsis Film

Disalah satu daerah di kota Aceh, tinggal seorang gadis kecil dan cantik bernama Delisa. Delisa tinggal bersama Umi (ibu) dan ketiga saudara perempuannya, yaitu Fatimah, Aisyah dan Zahra (sikembar). Delisa sendiri merupakan anak bungsu dari pasangan suami istri Abi Usman dan Umi  Salamah.

Abi Usman yang bekerja sebagai anak buah kapal membuatnya harus hidup jauh dan terpisah dari kelurga kecilnya.

Di kota Aceh, agama islam merupakan agama mayoritas. Oleh karena itu, orang tua Delisa menyekolahkan putri-putrinya di sekolah yang berbasis agama islam.

Abi Usman dan Umi Salamah begitu baik dan selalu mendukung putri-putri nya dalam hal apapun selagi itu hal yang positif, terutama dalam hal mempelajari dan mendalami agama.

Pada suatu hari di sekolah Delisa akan mengadakan ujian sekolah, salah satunya ujian ilmu agama, yaitu harus menghafalkan bacaan shalat. Umi Salamah pun berjanji kepada Delisa, jika dia bisa hafal bacaan shalat, maka Umi Salamah akan memberikan Delisa kalung emas yang berinisialkan D, sebagai arti dari kata Delisa. Mendengar Umi nya berkata demikian, Delisa pun langsung senang dan semangat untuk menghafal bacaan shalatnya.akan tetapi bukan hanya pada Delisa saja, Umi Salamah selalu memberikan hadiah kalung kepada semua putrinya, jika mereka bisa hafalan shalat.

Pada suatu ketika ujian tes hafalan bacaan shalat pun tiba. Umi Salamah berangkat ke sekolah untuk mengantar sekaligus manyaksikan putrinya dites hafalan bacaan shalat. Ketika dalam proses pengetesan praktik dan hafalan bacaan shalat, Delisa membacanya terlihat khusu sembari menutup matanya. Pada saat dipertengahan Delisa membaca do’a iftitah, tiba-tiba ada gempa bumi yang terasa oleh orang-orang di sekitas Delisa, termasuk oleh Umi Salamah. Akan tetapi, karena Delisa membaca hafalan shalat dan praktik shalat nya sambil menutup mata, dia tidak menghiraukan hal yang terjadi itu.

Pada saat itu semua orang berhamburan lari, karena takut tertimpa reruntuhan sekolah. Umi Salamah pun memanggil-manggil Delisa dari luar kelas, tapi Delisa tidak mendengarnya, karena saking khusu nya membaca hafalan shalatnya.

Setelah itu, tiba-tiba gelombang tsunami datang dan menghantam kelas yang di dalam nya ada Delisa yang sedang praktik shalat. Kemudian Delisa terseret ombak, Delisa pun tenggelam dan dia berusaha untuk benerang dari dalam gelombang tsunami itu agar bisa selamat, akan tetapi Delisa tetap tenggelam dan dia tiba-tiba pingsan.

Setelah tsunami selesai, Delisa ternyata terdampar di gundukan batu karang selama berhari-hari. Ketika itu, relawan dari negara asing pun menemukan Delisa dan seketika langsung membawanya ke rumah sakit. Seteh di rumah sakit, ternyata kaki kanan Delisa dinyatakan harus diamputasi oleh dokter.

Ketika bencana tsunami terjadi, Abi Usman sedang bekerja berlayar di kapal dan tidak mengetahui bahwa di kotanya terjadi tsunami begitupun dia tidak mengetahui bahwa keluarganya menjadi korban tsunami. Hingga akhirnya Abi Usman diberitahu oleh rekannya bahwa di Aceh tempatnya itu terjadi tsunami.

Abi Usman pun pulang ke Aceh dan dia tertegun, karena melihat kotanya dan rumahnya telah porak poranda diterjang tsunami. Beliau mencari keluarganya dan menanyakan ke sana kemari, akan tetapi tidak ketemu juga, hingga akhirnya Abi Usman bertemu dengan putrinya (Delisa) di salah satu rumah sakit. Pada saat itu Delisa sudah mau diadopsi menjadi anak angkat oleh relawan/tentara asing, akan tetapi, karena Delisa sudah bertemu dengan Abi nya, maka Delisa pun dibawa pulang oleh Abi Usman dan mereka pun harus menjalani kehidupan barunya tanpa ditemani keluarga yang lengkap seperti dahulu. Delisa pun terlihat senang dan bisa menerima keadaan, walau harus hidup dengan satu kakinya.

 

Ulasan Film

Dalam film Hafalan Shalat Delisa ini, mengajarkan kita untuk selalu semangat dalam mencari ilmu, terutama ilmu agama. Kemudian mengajarkan untuk menjadi seorang orang tua yang bertanggungjawab terhadap anak-naknya, terutama dalam hal memberikan pendidikan yang layak.

Umi Salamah menggambarkan istri yang shaleha yang berbakti pada suami dan mau mengurus anak dengan ikhlas walau tanpa suami di sisinya, karena harus bekerja. Dalam peran tentara asing yang membantu warga Aceh, memberi contoh kepada kita, bahwa hidup harus saling tolong menolong.

Abi Usman dan Delisa mengajarkan kita, bahwa kita harus bisa bangkit dari keterpurukan. Abi Usman juga memberikan contoh pada kita bahwa menjadi eorang laki-laki dan suami itu harus bertanggungjawab. Film ini juga mengajarkan kita untuk selalu bersikap ikhlas dan bersyukur dalam keadaan apapun. Delisa mengajarkan umat islam untuk khusu dalam shalatnya.

Akan tetapi yang menjadi nilai kurang dalam film ini, yaitu ada beberapa pengambilan gambar yang terlihat jelas tidak natural atau terlihat memang seperti editan, seperti pada scien ketika menggambarkan Delisa tenggelam sampai ke dasar air dan pada scien yang lainnya juga masih ada yang terlihat seperti editan. Hal ini yang mungkin mengurangi nilai kesempurnaan dalam film ini.


Kesimpuan Film

Film Hafalan Shalat Delisa ini sangat bagus untuk ditonton oleh seluruh kalangan usia, terutama oleh anak-anak agar memberikan edukasi kepada anak untuk selalu semangat belajar, terutama mempelajari agama. Film ini juga mengajarkan banyak hal positif, seperti bersikap ikhlas, kerja keras, pantang menyerah, semangat, dan khusu dalam ibadah. Film ini juga pernah ditayangkan di TV dan memang film ini sangat bagus sebagai bahan edukasi anak, terutama yang beragaman islam.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi Film : HAFALAN SHALAT DELISA

  Identitas Film Judul Film : Hafalan Shalat Delisa Sutradara : Sony Gaokasak Produser : Chand Parwez Servia Penulis Naskah : Arma...