TABLIGH MENURUT AL-QUR’AN
1.
Pengertian Tabligh
Tabligh secara
bahasa berasal dari kata ballaga, yuballigu, tabligan yang artinya
menyampaikan. Tabligh secara istilah dapat diartikan dengan menyampaikan
ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad kepada
umat manusia sebagai pedoman hidup dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Orang yang menyampaikan tabligh disebut dengan mubalig atau mubaligah. Menurut Dr. Acep aripudin dakwah disebut juga komunikasi islam.
islam adalah agama yang membawa ajaran-ajaran untuk disampaikan kepada umat
manusia. Konsekuensi logis dari keberadan Islam sebagai agama dakwah maka Islam
membutuhkan eksistenti dan peran dakwah. Al-faruqi menyatakan bahwa islam tidak
bisa menolak dakwah jika islam memiliki kekuatan intelektual. Menolak dakwah
berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan orang lain terhadap apa
yang diklaim sebagai kebenaran Islam. Tidak menuntut persetujuan orang lain
atau berarti menyatakan klaim itu subyektif, partikularis atau relative secara
mutlak, karena itu tidak berlaku bagi orang lain selain pembuat klaim itu
sendiri.
Istilah tablegh
dalam al qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’il maupun masdar sebanyak lebih
dari seratus kata. Al-qur’an menggunakan kata tabligh untuk mengajak kepada
kebaikan yang disertai dengan risisko masing-masing pilihan. Dalam Al-qur’an,
tabligh dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti
mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan.
Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan istilah tabligh dalam
konteks yang berbeda. Islam adalah agama dakwah ( tabligh ), agama
menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya
untuk percaya, menumbuhkan pengertian dan kesadaan agar umat islam mampu
menjalani hidup sesuai dengan perintah dianggap sebagai tugas suci yang
merupakan tugas setiap muslim. Dakwah bukan hanya dilakukan terhadap
orang-orang yang belum beragama tetapi juga dilakukan terhadap orang yang sudah
beragama. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Seperti
firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 110: Artinya : ” kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang kebajikan dan
mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara merek ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imron, 110 ).
Dan firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 104: Artinya : “ Hendaklah ada
sekelompok orang di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menganjurkan
berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Kita dapat
menyampaikan tabligh dengan berbagai cara sesuai kemampuan. Dewasa ini tabligh
dapat dilakukan dalam berbagai acara seperti seminar, lokakarya, atau
sarasehan. Untuk menarik masyarakat, biasanya seorang mubalig dalam
menyampaikan ceramah seni bersikap kreatif, misalnya dengan menggunakan teknologi,
memadukan dengan pertunjukan, dan kreasi menarik lainnya. Oleh karena itu,
seorang mubalig perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, selalu
kreatif, dan menguasai ilmu pengetahuan Islam yang luas. Dengan melakukan
tabligh ini, ajaran Islam semakin tersebar sehingga dapat dipahami oleh banyak
orang.
Tabligh merupakan salah satu ajaran agama yang
sangat penting. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat sebagai berikut.
Artinya: Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (Q.S. al-Ma'idah: 67)
Tabligh berisi ajakan untuk beramar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak orang lain untuk menjalankan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya. R asulullah saw . membenci contoh cara bertabligh. Setelah Nabi Muhammad saw. diutus menjadi rasul, beliau langsung melakukan tabligh ajaran Islam kepada masyarakat Mekah. Dalam menyampaikan tabligh, Rasulullah menerapkan strategi dan tahapan tertentu.
Sepeninggal Rasulullah tugas tabligh terus dilakukan oleh para sahabat hingga terus dilanjutkan oleh umat muslim saat ini. Tujuannya agar ajaran-ajaran Islam dapat disampaikan kepada umatnya. Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadis, "Dari Abdullah ibnu Amr sesungguhnya Nabi saw. bersabda, "Sampaikanlah olehmu apa yang kalian peroleh dariku, meskipun hanya satu ayat" (H.R. Bukhari).
Artinya: Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (Q.S. al-Ma'idah: 67)
Tabligh berisi ajakan untuk beramar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak orang lain untuk menjalankan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya. R asulullah saw . membenci contoh cara bertabligh. Setelah Nabi Muhammad saw. diutus menjadi rasul, beliau langsung melakukan tabligh ajaran Islam kepada masyarakat Mekah. Dalam menyampaikan tabligh, Rasulullah menerapkan strategi dan tahapan tertentu.
Sepeninggal Rasulullah tugas tabligh terus dilakukan oleh para sahabat hingga terus dilanjutkan oleh umat muslim saat ini. Tujuannya agar ajaran-ajaran Islam dapat disampaikan kepada umatnya. Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadis, "Dari Abdullah ibnu Amr sesungguhnya Nabi saw. bersabda, "Sampaikanlah olehmu apa yang kalian peroleh dariku, meskipun hanya satu ayat" (H.R. Bukhari).
2.
Tata Cara
Tabligh
Tabligh dapat
dilakukan dengan cara bil hal dan bil lisan. Dakwah/tabligh bil hal dilakukan dengan cara membiasakan diri untuk
berakhlak terpuji sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dakwah/tabligh bil lisan dilakukan dengan cara menyampaikan dakwah
secara lisan kepada masyarakat luas. Dakwah/tabligh bil lisan juga dapat disampaikan melalui koran,
internet, radio, televisi, atau media massa lainnya.
Ceramah merupakan metode yang sangat penting dalam menyampaikan tabligh/dakwah. Metode ceramah ini biasanya disampaikan pada acara-acara tertentu yang bersifat formal. Agar kita memiliki kemampuan dalam berceramah perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
Ceramah merupakan metode yang sangat penting dalam menyampaikan tabligh/dakwah. Metode ceramah ini biasanya disampaikan pada acara-acara tertentu yang bersifat formal. Agar kita memiliki kemampuan dalam berceramah perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Mempersiapkan Mental (Kondisi Rohaniah)
Persiapan
mental harus dilakukan oleh penceramah. Agar memiliki mental yang baik, kita
perlu menumbuhkan kepercayaan diri. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, harus
bersikap ikhlas dengan senantiasa melaksanakan perintah Allah swt.,
meningkatkan keimanan, serta menampilkan akhlak mulia dalam hidup sehari-hari.
2. Persiapan Teknis
Persiapan tek nis dalam berceramah penting agar materi dakwahnya dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengarnya. Salah satu persiapan teknis yang perlu diperhatikan adalah membuat materi ceramah dengan sistematika yang baik. Misalnya, dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut.
Persiapan tek nis dalam berceramah penting agar materi dakwahnya dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengarnya. Salah satu persiapan teknis yang perlu diperhatikan adalah membuat materi ceramah dengan sistematika yang baik. Misalnya, dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut.
- Salam
pembuka
- Hamdalah
atau puji-pujian kepada Allah swt.
- Shalawat
kepada Rasulullah saw.
- Pembacaan
ayat-ayat Al-Quran sesuai materi ceramah.
- Uraian ceramah
yang terdiri atas pembukaan, penjelasan materi, kesimpulan, dan penutup.
3. Persiapan
Fisik (Jasmaniah)
Persiapan fisik
juga diperlukan ketika berceramah. Kondisi fisik mempengaruhi penyampaian
materi seorang dai atau mubalig. Seorang penceramah harus memiliki kondisi
fisik yang prima agar dapat menyampaikan isi ceramah dengan baik.
Namun dalam melaksanakan tugas dakwah /
tabligh, seorang da’I dihadapkan pada kenyataan bahwa individu-individu yang
akan didakwahi memiliki keberagaman dalam berbagai hal, seperti pikiran-pikiran
( ide-ide ), pengalaman kepribadian, dan lain-lain. Keberagaman tersebut akan
memberi corak yang berbeda pula dalam menerima dakwah ( materi dakwah ) dan
menyikapinya, karena itulah untuk meng-efektifkan usaha dakwah seorang Da’I
dituntut untuk memahami mad’u yang akan di hadapi. Pada hakekatnya tablighul
Islam merupakan upaya untuk mengubah suatu keadaan tertentu menjadi keadaan
lain yang lebih baik menurut tolak ukur islam. Menurut Amrullah Ahmad, dakwah
juga merupakan aktualisasi imani yang imanifestasikan dalm suatu system
kegiatan dalam bidang kemasyarakatan. Dakwah di tujukan untuk mempengaruhi cara
merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia baik secara individu maupun
kemasyrakatan. Tujuannya adalah mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam
semua segi kehidupan manusia dengan mengunakan cara tertentu. System
dakwah/tablligh memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih rinci. Ahmad
Watik Pratiknya berpendapat system ini memiliki fungsi meletakan dasar eksistensi
masyrakat islam. Di samping itu, dakwah islam akan menambah nilai-nilai
keadilan, persamaan, persatuan, perdamain, kebaikan, dan keindahan, sebagai
inti penggerak perkembangan masyarakat. Tidak sekedar itu, tabligh/dakwah islam
juga membebaskan individu dan masyarakat dari system kehidupan Zalim menuju
system yang adil. Yang menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang
berlaku dalam masyrakat, dalam rangka mengembangkan tugas nahi munkar dan
melaksanakan amar ma’ruf, meletakan system sebagai inti penggerak jalannya
sejarah; memberikan dasar orientasi keislaman kegitan ilmiah dan teknologi.
Merealisasikan system budaya yang berakal pada dimensi spiritual yang merupakan
dasar ekspresi akidah; meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakan
hukum.mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi suatu kesatuan umat;
merealisasi keadilan dalam bidang ekonomi lemah dan memberikan kerangka dasar
keselarasan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Dari makna yang luas
tersebut ada beberapa yang perlu kita perhatikan secara seksama. Kita berharap
dengan memahami beberapa hal tersebut dakwah akan kita laksanakn dengan lebih
baik. Pertama, dakwah (tabligh) sering di salah mengertikan sebagai pesan yang
datang dari luar.pembahasan ini akan membawa konsekuensi kesalahlangkahan
dakwah. bisa salah dalam formulasi pendekatan atau metodologis maupun formulasi
pesan dakwahnya.karena dakwah di anggap dari luar, maka langkah pendekatan
lebih di warnai dengan pendekatan interventiv dan para dai lebih mendudukan
diri sebagai orang asing,tidak terkait dengan apa yang di rasakan dan di
butuhkan oleh masyarakat. Kedua, dakwah (tabligh) sering menjadi sekadar
ceramah dalam arti sempit.kesalahan sebenarnya sudah sering di ungkapkan, akan
tetapi di dalam pelaksanaannya tetap saja terjadi penyempitan makna. Akhirnya
orentasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat kerohanian saja.
3.
Hubungan Tabligh Dengan Ilmu yang Lain
Di dalam al-quran tidak hanya menjelaskan dalam kewajiban berdakwah
(tabligh) saja, akan tetapi menjelaskan pula tentang ilmu-ilmu yang lain yang
berkaitan dengan kehidupan manusia di antaranya ilmu kedokteran, ilmu sosial,
dan ilmu-ilmu yang lainnya contoh di dalam ilmu kedokteran di dalam al-quran
Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah
sempurna kejadiannya, tuhan menghebuskan kepadanya ruh ciptaannya. Dengan “tanah”
manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk lainnya, sehingga ia
butuh makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya. Dan dengan “ruh” ia di antar
kearah tujuan non materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak
dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal dengan alam materil. Kaitannya
dengan ilmu psikolgi, selain manusia merupakan makhluk individual, secara
hakiki manusia juga merupakan makhluk sosial. Pada dasarnya manusia tidak dapat
hidup seorang diri tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Dengan interaksi
sosial manusia dapat merealisasikan kehidupannya secara individual. Sebab tanpa
timbal balik dalam interaksi soaial, manusia tidak dapat merealisasiakan
kemungkinan-kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu. Menurut
Al-quran, meski manusia itu merupakan kerja sama horizontal antarmanusia,
tetapi ia merupakan bagian dari bagian vertical dengan tuhan. Oleh karena itu
di dalam masyarakat juga ada dimensi teologis, misalny ashalat menjadi kurang
bermakna jika melupakan komitman sosial dengan menzalimi orang lain, menelantarkan
anak yatim, tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Atau dengan kata lain,
bahwa hidup bermasyarakat tidak cukup dengan ketakwaan individual, namun harus
di barengi dengan ketakwaan sosial. Al-qur’an sebagai petunjuk manusia juga
membimbing mereka dalam membangun sebuah masyarakat. Tatanan masyarakat yang
dikehendaki Al-qur’an adalah masyarakat yang adil, berdasarkan etika dan dapat
berthan di muka bumi, dan model masyarakat seperti itu hanya mungkin terwujud
jika memiliki ideologi yang benar.
4.
Konsep dan Unsur-unsur
Tabligh
Menurut Dr. Acep aripudin tabligh / dakwah memiliki beberapa unsur
didalamnya seperti da’i , media ( wasilah ) , metode ( ulsub ) , materi (
mawdu’ ) , sasaran ( mad’u ) dan juga tujuan dakwah. Semua unsur ini merupakan
konsep yang haru diuji melalui riset riset yang lebih empirik.
5.
Unsur da’i atau pelaku dakwah
Menurut Dr. Acep aripudin da’i bisa secara individual , kelompok ,
organisasi atau lembaga yang di panggil untuk melakukan tindakan dakwah.
Menurut nasaruddin lathief Bahwa dai adalah Muslim dan Muslimat yang menjadikan
dakwah sebagai suatu amaliah pokok. Dalam menyampaikan ajaran yang benar da’i
dituntut bukan hanya sekedar ahli dalam berbicara akan tetapi ahli pula dan
perihal pemahaman terhadap apa yang ia sampaikan. Sehingga apa yang disampaikan
oleh da’i tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan oleh sasaran dakwah tanpa
ada kesalahan sedikitpun. Karena da’i memiliki posisi paling inti dalam dakwah
maka citra yang harus dimiliki oleh seorang da’i haruslah bercermin kepada
Rasulullah SAW selaku uswatun hasanah. Sehingga bila citra yang dimiliki oleh
seorang da’i ialah citra yang baik maka sasaran dakwah pun akan memberikan
citra yang positif kepada da’i tersebut sehingga terbentuklah proses
penyampaian dan penerimaan yang efektif.
6.
Sasaran Dakwah ( Mad’u )
Mad’u ialah yang diajak kepada Allah atau menuju al-islam. Karena
islam bersifat universal objek dakwah pun adalah manusia secara universal hal
ini didasarkan juga kepada misi nabi Muhammad SAW . yang diutus oleh Allah untuk
mendakwahkan islam kepada segenap umat manusia sebagaimana yang dijelaskan
dalam surat Al – A’raf : 158.
7.
Unsur materi dakwah
Materi dakwah adalah ilmu atau pesan yang disampaikan kepada
sasaran dakwah yang berlandaskan Al – Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam
konteks materi dakwah yang disampaikan harus jelas dan mudah dipahami oleh
sasaran dakwah karena tujuan dari proses tabligh adalah apa yang disampaikan
dapat dimengerti dan dilaksanakan dengan baik oleh sasaran dakwah sehingga berhasil
lah penyampaian nya tersebut.
8.
Unsur metode dakwah ( uslub
al-da’wah )
Metode adalah suatu cara yang di tempuh atau cara yang ditentukan
secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem,
tata pikir manusia. Dijelaskan dalam surat AN – Nahl : 125 : “serulah manusia
kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah
dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu , dialah yang lebih
mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
siapa yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa dalam menyampaikan ajaran yang
benar hendaklah yang pertama dengan metode hikmah yang berarti dengan bijaksana
dapat mengenal strata mad’u dan dapat menempatkan sesuatu sesuai keadaan. Lalu
yang kedua ialah metode pengajaran yang baik dan yang ketiga adalah metode
debat dengan syarat dengan perdebatan yang baik.
9.
Media dakwah
Media dakwah adalah alat yang bersifat objektif yang bisa menjadi
saluran untuk menghubungkan ide dengan umat , suatu elemen yang vital dan
merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaan nya sangat penting
dalam menentukan perjalanan dakwah.
10.
Metodologi penelitian dakwah
Metodologi berasal dari kata methodology maknanya adalah ilmu yang
menerangkan metode metode atau cara – cara. Penelitian
adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata re (
mengulang ) dan search ( pencarian ) maka research berarti berulang melakukan
pencarian. Dakwah sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki sejumlah lapangan
penelitian, sebetulnya belum lama lahir dan dirumuskan. Padahal dakwah sebagai
aktivitas dan instrumen penyebaran Islam telah dikenal dalam usia yang cukup
lama . Hal demikian dimungkinkan karena pada masa itu, para ahli lebih terfokus
pada konsepsi dan sistematisasi ilmu-ilmu induk keislaman. Kesadaran akan
perlunya suatu ilmu yang independen dan memiliki ruang dan metode tersendiri
mengenai dakwah dan seluk beluknya, mengantarkan kepada lahirnya suatu disiplin
keilmuan dakwah.
Sebagai disiplin ilmu yang baru lahir, tentunya ilmu dakwah tetap
terikat dengan disiplin-disiplin keilmuan lain yang lebih dulu lahir. Dalam hal
metodologis misalnya, ilmu dakwah menilai perlunya mengadopsi konsep dan teori
keilmuan yang telah mapan. Hal demikian dimaksudkan agar dakwah sebagai ilmu
dapat tetap eksis ditengah pesatnya perkembangan keilmuan modern . Dakwah
sebagai ilmu, terbangun dari beberapa bidang keilmuan di antaranya pertama,
ilmu sumber seperti ulum al Qur'an dan ulum al hadist serta ragam keilmuan lain
yang terkait dengan keduanya, kedua, ilmu dasar teoritik seperti pengantar ilmu
dakwah, dasar-dasar ilmu tabligh (KPI), dasar-dasar ilmu bimbingan penyuluhan,
manajemen dakwah, dan ilmu pengembangan masyarakat. Ketiga, ilmu teknik yang
terdiri dari teknologi tabligh, irsyad (bimbingan), tadbir (manajemen) dan
tathwir (pengembangan masyarakat). Keempat, ilmu bantu yang terdiri dari
psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, manajemen dan komunikasi. Dalam
kaitan penelitian, ilmu dakwah melakukan pendekatan pada sejumlah disiplin
keilmuan yang telah mapan, dan pendekatan tersebut difokuskan kepada sejumlah
ilmu-ilmu bantu dakwah.
11.
Prinsip – prinsip tabligh dalam Al – qur’an
Menurut Drs. K.H. Didin
hafidhuddin, M.Sc. apabila kita memperhatikan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita
akan mengetahui sesungguhnya dakwah menduduki tempat dan posisi utama , sentral
, strategis , dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian islam dengan perkembangan
zaman , baik dalam sejarah maupun praktiknya , sangat ditentukan oleh kegiatan
dakwah yang dilakukan oleh umatnya. Materi dakwah maupun metodenya yang tidak
tepat , sering memberikan gambaran dan persepsi yang keliru tentang islam.
Tujuan utama dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau
diperoleh oleh keseluruhan tindakan dakwah . Sebagaimana telah dirumuskan
ketika pemberian pengertian tentang dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan
kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Demi
terwujudnya tujuan dari dakwah itu tersendiri maka haruslah seorang selaku yang
menyampaikan memiliki dan memahami prinsip tabligh itu sendiri yang terdapat
dalam Al-Qur’an sehingga tidak ada kekeliruan baik dalam penyampaian ataupun
penerimaan ajaran tersebut. Adapun prinsip tabligh itu sendiri yang dijelaskan
dalam Al-Qur’an yaitu antara lain :
Qs. Al-Isra : 53
Perintah menggunakan
bahasa yang baik ( ahsan )
Qs. An-nisa : 114
Perintah menghindari
kalimat yang buruk
Qs. Ibrahim : 25 -26
Qoulan karima (
perkataan yang baik )
Al-Isra : 25
Qoulan maysura (
ucapan yang lemah lembut )
Al-Isra : 28
Qoulan layina (
perkataan lemah lembut )
At-Taha
: 44
Qoulan ma’rufa ( perkataan yang baik )
An-Nisa
: 5
Qoulan ma’rufa ( perkataan yang baik )
Al-Ahzab
: 32
Qoulan baligha ( perkataan yang
mengena )
An-Nisa
: 63
Qoulan tsaqila ( perkataan yang berat
)
Al-Muzammil
: 5
Qoulan ‘adzima ( perkataan yang besar
)
Bila dalam penyampaian nya telah berlandaskan prinsip yang tertera
dalam Al-Qur’an maka proses tablig / menyampaikan dapat berjalan dengan lebih
efektif sehingga tidak bermunculan kembali kekeliruan terhadap ajaran islam
dikarenakan metode yang kurang tepat dan prinsip yang tidak diterapkan dalam
tabligh.
Hanya saja dalam penggunaan prinsip tabligh harus dibarengi dengan
pribadi muslim yang baik. Apabila kita menyimak gerakan dakwah Rasulullah SAW.
Maka pertama kali yang dilakukan adalah membentuk pribadi muslim yang tangguh
mulai dari istrinya Siti Khadijah , Ali Bin Abi Thalib , dan sahabat dekat lain
nya. Hal ini mengandung pelajaran bahwa berdakwah haruslah mampu menumbuhkan
pionir pionir muslim yang tangguh yang pada akhirnya mampu menjadi dinamisator
di dalam mayarakat.
12. Tujuan Tabligh
- Tujuan
tabligh adalah mengajak dan menyeru orang lain untuk menjalankan ajaran
Islam dengan menjaga iman dan takwa.
- Dapat
dilakukan kapan pun.
- Tidak ada
ketentuan rukun dan syarat-syarat tertentu.
- Dapat
dilakukan dengan cara apa pun.
- Dapat
dilakukan dalam suatu acara, baik formal maupun nonformal.
Selain lima hal di atas, dalam menyampaikan
tabligh dan dakwah kepada orang lain, kita tidak boleh memaksa. Islam melarang
tindakan pemaksaan kepada orang lain untuk memeluk atau menjalankan ajaran
agama. Firman Allah swt dalam Al-Quran
Artinya:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat... (Q.S. al-Baqarah: 256)
Seseorang
yang hendak melaksanakan tabligh atau dakwah hendaknya memperbaiki dirinya
sendiri terlebih dahulu. Jika seseorang yang berdakwah berakhlak mulia, orang
lain akan terdorong untuk mengikuti ajakannya. Jika seseorang sering melakukan
perbuatan tercela, orang lain tidak akan tertarik mengikuti ajakannya.
Kesimpulan
Tabligh secara
bahasa berasal dari kata ballaga, yuballigu, tabligan yang artinya
menyampaikan. Tabligh secara istilah dapat diartikan dengan menyampaikan
ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad kepada
umat manusia sebagai pedoman hidup dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Orang yang menyampaikan tabligh disebut dengan mubalig atau mubaligah. Dalam
Al-qur’an, tabligh dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali
dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka
atau kejahatan. . Dakwah bukan
hanya dilakukan terhadap orang-orang yang belum beragama tetapi juga dilakukan
terhadap orang yang sudah beragama. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban
untuk berdakwah. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 110: Artinya :
” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang kebajikan dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.
Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara
merek ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
(QS. Ali Imron, 110 ). Dan firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 104: Artinya
: “ Hendaklah ada sekelompok orang di antara kamu yang menyeru kepada
kebajikan, menganjurkan berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, merekalah
orang-orang yang beruntung”.
Tabligh dapat
dilakukan dengan cara bil hal dan bil lisan. Dakwah/tabligh bil hal dilakukan dengan cara membiasakan diri untuk
berakhlak terpuji sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dakwah/tabligh bil lisan dilakukan dengan cara menyampaikan dakwah
secara lisan kepada masyarakat luas. Dakwah/tabligh bil lisan juga dapat disampaikan melalui koran,
internet, radio, televisi, atau media massa lainnya. Metode adalah suatu cara yang di tempuh atau cara yang ditentukan
secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem,
tata pikir manusia. Dijelaskan dalam surat AN – Nahl : 125 : “serulah manusia
kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah
dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu , dialah yang lebih
mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
siapa yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa dalam menyampaikan ajaran yang
benar hendaklah yang pertama dengan metode hikmah yang berarti dengan bijaksana
dapat mengenal strata mad’u dan dapat menempatkan sesuatu sesuai keadaan. Lalu
yang kedua ialah metode pengajaran yang baik dan yang ketiga adalah metode
debat dengan syarat dengan perdebatan yang baik.
REFERENSI
Dr.
Acep aripudin , pengembangan metode dakwah.
Dr.
H. Tata Sukayat, M.Ag. , ilmu dakwah perspektif filsafat mabadi ‘asyarah.
Drs.
K.H. Didin hafidhuddin, M.Sc., dakwah aktual.
Drs.
Abd. Rosyad Shaleh, manajemen da’wah islam.
Psikologi Dakwah, Faizah S.Ag, M.A dan H. Lalu
Muchin Effendi, Lc, M.A.
Islam,Dakwah dan Politik, Anonim.
Fiqhud Da’wah, Mohammad Natsir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar