Senin, 09 April 2018

TABLIGH MENURUT AL-QUR'AN


       TABLIGH MENURUT AL-QUR’AN

1.       Pengertian Tabligh
Tabligh secara bahasa berasal dari kata ballaga, yuballigu, tabligan yang artinya menyampaikan. Tabligh secara istilah dapat diartikan dengan menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad kepada umat manusia sebagai pedoman hidup dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang menyampaikan tabligh disebut dengan mubalig atau mubaligah. Menurut Dr. Acep aripudin dakwah disebut juga komunikasi islam. islam adalah agama yang membawa ajaran-ajaran untuk disampaikan kepada umat manusia. Konsekuensi logis dari keberadan Islam sebagai agama dakwah maka Islam membutuhkan eksistenti dan peran dakwah. Al-faruqi menyatakan bahwa islam tidak bisa menolak dakwah jika islam memiliki kekuatan intelektual. Menolak dakwah berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan orang lain terhadap apa yang diklaim sebagai kebenaran Islam. Tidak menuntut persetujuan orang lain atau berarti menyatakan klaim itu subyektif, partikularis atau relative secara mutlak, karena itu tidak berlaku bagi orang lain selain pembuat klaim itu sendiri.
Istilah tablegh dalam al qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’il maupun masdar sebanyak lebih dari seratus kata. Al-qur’an menggunakan kata tabligh untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan risisko masing-masing pilihan. Dalam Al-qur’an, tabligh dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan. Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan istilah tabligh dalam konteks yang berbeda. Islam adalah agama dakwah ( tabligh ), agama menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya untuk percaya, menumbuhkan pengertian dan kesadaan agar umat islam mampu menjalani hidup sesuai dengan perintah dianggap sebagai tugas suci yang merupakan tugas setiap muslim. Dakwah bukan hanya dilakukan terhadap orang-orang yang belum beragama tetapi juga dilakukan terhadap orang yang sudah beragama. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 110: Artinya : ” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang kebajikan dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara merek ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imron, 110 ). Dan firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 104: Artinya : “ Hendaklah ada sekelompok orang di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menganjurkan berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Kita dapat menyampaikan tabligh dengan berbagai cara sesuai kemampuan. Dewasa ini tabligh dapat dilakukan dalam berbagai acara seperti seminar, lokakarya, atau sarasehan. Untuk menarik masyarakat, biasanya seorang mubalig dalam menyampaikan ceramah seni bersikap kreatif, misalnya dengan menggunakan teknologi, memadukan dengan pertunjukan, dan kreasi menarik lainnya. Oleh karena itu, seorang mubalig perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, selalu kreatif, dan menguasai ilmu pengetahuan Islam yang luas. Dengan melakukan tabligh ini, ajaran Islam semakin tersebar sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.
Tabligh merupakan salah satu ajaran agama yang sangat penting. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat sebagai berikut.
Artinya: Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (Q.S. al-Ma'idah: 67)
Tabligh berisi ajakan untuk beramar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak orang lain untuk menjalankan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya. R asulullah saw . membenci contoh cara bertabligh. Setelah Nabi Muhammad saw. diutus menjadi rasul, beliau langsung melakukan tabligh ajaran Islam kepada masyarakat Mekah. Dalam menyampaikan tabligh, Rasulullah menerapkan strategi dan tahapan tertentu.
Sepeninggal Rasulullah tugas tabligh terus dilakukan oleh para sahabat hingga terus dilanjutkan oleh umat muslim saat ini. Tujuannya agar ajaran-ajaran Islam dapat disampaikan kepada umatnya. Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadis, "Dari Abdullah ibnu Amr sesungguhnya Nabi saw. bersabda, "Sampaikanlah olehmu apa yang kalian peroleh dariku, meskipun hanya satu ayat" (H.R. Bukhari)
.



2.      Tata Cara Tabligh
Tabligh dapat dilakukan dengan cara bil hal dan bil lisan. Dakwah/tabligh bil hal dilakukan dengan cara membiasakan diri untuk berakhlak terpuji sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dakwah/tabligh bil lisan dilakukan dengan cara menyampaikan dakwah secara lisan kepada masyarakat luas. Dakwah/tabligh bil lisan juga dapat disampaikan melalui koran, internet, radio, televisi, atau media massa lainnya.

Ceramah merupakan metode yang sangat penting dalam menyampaikan tabligh
/dakwah. Metode ceramah ini biasanya disampaikan pada acara-acara tertentu yang bersifat formal. Agar kita memiliki kemampuan dalam berceramah perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Mempersiapkan Mental (Kondisi Rohaniah)
Persiapan mental harus dilakukan oleh penceramah. Agar memiliki mental yang baik, kita perlu menumbuhkan kepercayaan diri. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, harus bersikap ikhlas dengan senantiasa melaksanakan perintah Allah swt., meningkatkan keimanan, serta menampilkan akhlak mulia dalam hidup sehari-hari.
2. Persiapan Teknis
Persiapan tek nis dalam berceramah penting agar materi dakwahnya dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengarnya. Salah satu persiapan teknis yang perlu diperhatikan adalah membuat materi ceramah dengan sistematika yang baik. Misalnya, dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut.
  • Salam pembuka
  • Hamdalah atau puji-pujian kepada Allah swt.
  • Shalawat kepada Rasulullah saw.
  • Pembacaan ayat-ayat Al-Quran sesuai materi ceramah.
  • Uraian ceramah yang terdiri atas pembukaan, penjelasan materi, kesimpulan, dan penutup.

3. Persiapan Fisik (Jasmaniah)
Persiapan fisik juga diperlukan ketika berceramah. Kondisi fisik mempengaruhi penyampaian materi seorang dai atau mubalig. Seorang penceramah harus memiliki kondisi fisik yang prima agar dapat menyampaikan isi ceramah dengan baik.

Namun dalam melaksanakan tugas dakwah / tabligh, seorang da’I dihadapkan pada kenyataan bahwa individu-individu yang akan didakwahi memiliki keberagaman dalam berbagai hal, seperti pikiran-pikiran ( ide-ide ), pengalaman kepribadian, dan lain-lain. Keberagaman tersebut akan memberi corak yang berbeda pula dalam menerima dakwah ( materi dakwah ) dan menyikapinya, karena itulah untuk meng-efektifkan usaha dakwah seorang Da’I dituntut untuk memahami mad’u yang akan di hadapi. Pada hakekatnya tablighul Islam merupakan upaya untuk mengubah suatu keadaan tertentu menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolak ukur islam. Menurut Amrullah Ahmad, dakwah juga merupakan aktualisasi imani yang imanifestasikan dalm suatu system kegiatan dalam bidang kemasyarakatan. Dakwah di tujukan untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia baik secara individu maupun kemasyrakatan. Tujuannya adalah mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam semua segi kehidupan manusia dengan mengunakan cara tertentu. System dakwah/tablligh memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih rinci. Ahmad Watik Pratiknya berpendapat system ini memiliki fungsi meletakan dasar eksistensi masyrakat islam. Di samping itu, dakwah islam akan menambah nilai-nilai keadilan, persamaan, persatuan, perdamain, kebaikan, dan keindahan, sebagai inti penggerak perkembangan masyarakat. Tidak sekedar itu, tabligh/dakwah islam juga membebaskan individu dan masyarakat dari system kehidupan Zalim menuju system yang adil. Yang menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyrakat, dalam rangka mengembangkan tugas nahi munkar dan melaksanakan amar ma’ruf, meletakan system sebagai inti penggerak jalannya sejarah; memberikan dasar orientasi keislaman kegitan ilmiah dan teknologi. Merealisasikan system budaya yang berakal pada dimensi spiritual yang merupakan dasar ekspresi akidah; meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakan hukum.mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi suatu kesatuan umat; merealisasi keadilan dalam bidang ekonomi lemah dan memberikan kerangka dasar keselarasan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Dari makna yang luas tersebut ada beberapa yang perlu kita perhatikan secara seksama. Kita berharap dengan memahami beberapa hal tersebut dakwah akan kita laksanakn dengan lebih baik. Pertama, dakwah (tabligh) sering di salah mengertikan sebagai pesan yang datang dari luar.pembahasan ini akan membawa konsekuensi kesalahlangkahan dakwah. bisa salah dalam formulasi pendekatan atau metodologis maupun formulasi pesan dakwahnya.karena dakwah di anggap dari luar, maka langkah pendekatan lebih di warnai dengan pendekatan interventiv dan para dai lebih mendudukan diri sebagai orang asing,tidak terkait dengan apa yang di rasakan dan di butuhkan oleh masyarakat. Kedua, dakwah (tabligh) sering menjadi sekadar ceramah dalam arti sempit.kesalahan sebenarnya sudah sering di ungkapkan, akan tetapi di dalam pelaksanaannya tetap saja terjadi penyempitan makna. Akhirnya orentasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat kerohanian saja.

3.      Hubungan Tabligh Dengan Ilmu yang Lain
Di dalam al-quran tidak hanya menjelaskan dalam kewajiban berdakwah (tabligh) saja, akan tetapi menjelaskan pula tentang ilmu-ilmu yang lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia di antaranya ilmu kedokteran, ilmu sosial, dan ilmu-ilmu yang lainnya contoh di dalam ilmu kedokteran di dalam al-quran Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, tuhan menghebuskan kepadanya ruh ciptaannya. Dengan “tanah” manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk lainnya, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya. Dan dengan “ruh” ia di antar kearah tujuan non materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal dengan alam materil. Kaitannya dengan ilmu psikolgi, selain manusia merupakan makhluk individual, secara hakiki manusia juga merupakan makhluk sosial. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup seorang diri tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Dengan interaksi sosial manusia dapat merealisasikan kehidupannya secara individual. Sebab tanpa timbal balik dalam interaksi soaial, manusia tidak dapat merealisasiakan kemungkinan-kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu. Menurut Al-quran, meski manusia itu merupakan kerja sama horizontal antarmanusia, tetapi ia merupakan bagian dari bagian vertical dengan tuhan. Oleh karena itu di dalam masyarakat juga ada dimensi teologis, misalny ashalat menjadi kurang bermakna jika melupakan komitman sosial dengan menzalimi orang lain, menelantarkan anak yatim, tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Atau dengan kata lain, bahwa hidup bermasyarakat tidak cukup dengan ketakwaan individual, namun harus di barengi dengan ketakwaan sosial. Al-qur’an sebagai petunjuk manusia juga membimbing mereka dalam membangun sebuah masyarakat. Tatanan masyarakat yang dikehendaki Al-qur’an adalah masyarakat yang adil, berdasarkan etika dan dapat berthan di muka bumi, dan model masyarakat seperti itu hanya mungkin terwujud jika memiliki ideologi yang benar.

4.       Konsep dan Unsur-unsur Tabligh
Menurut Dr. Acep aripudin tabligh / dakwah memiliki beberapa unsur didalamnya seperti da’i , media ( wasilah ) , metode ( ulsub ) , materi ( mawdu’ ) , sasaran ( mad’u ) dan juga tujuan dakwah. Semua unsur ini merupakan konsep yang haru diuji melalui riset riset yang lebih empirik.

5.      Unsur da’i atau pelaku dakwah 
Menurut Dr. Acep aripudin da’i bisa secara individual , kelompok , organisasi atau lembaga yang di panggil untuk melakukan tindakan dakwah. Menurut nasaruddin lathief Bahwa dai adalah Muslim dan Muslimat yang menjadikan dakwah sebagai suatu amaliah pokok. Dalam menyampaikan ajaran yang benar da’i dituntut bukan hanya sekedar ahli dalam berbicara akan tetapi ahli pula dan perihal pemahaman terhadap apa yang ia sampaikan. Sehingga apa yang disampaikan oleh da’i tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan oleh sasaran dakwah tanpa ada kesalahan sedikitpun. Karena da’i memiliki posisi paling inti dalam dakwah maka citra yang harus dimiliki oleh seorang da’i haruslah bercermin kepada Rasulullah SAW selaku uswatun hasanah. Sehingga bila citra yang dimiliki oleh seorang da’i ialah citra yang baik maka sasaran dakwah pun akan memberikan citra yang positif kepada da’i tersebut sehingga terbentuklah proses penyampaian dan penerimaan yang efektif.

6.      Sasaran Dakwah ( Mad’u )
Mad’u ialah yang diajak kepada Allah atau menuju al-islam. Karena islam bersifat universal objek dakwah pun adalah manusia secara universal hal ini didasarkan juga kepada misi nabi Muhammad SAW . yang diutus oleh Allah untuk mendakwahkan islam kepada segenap umat manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al – A’raf : 158.

7.       Unsur materi dakwah
Materi dakwah adalah ilmu atau pesan yang disampaikan kepada sasaran dakwah yang berlandaskan Al – Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam konteks materi dakwah yang disampaikan harus jelas dan mudah dipahami oleh sasaran dakwah karena tujuan dari proses tabligh adalah apa yang disampaikan dapat dimengerti dan dilaksanakan dengan baik oleh sasaran dakwah sehingga berhasil lah penyampaian nya tersebut.

8.       Unsur metode dakwah ( uslub al-da’wah )
Metode adalah suatu cara yang di tempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata pikir manusia. Dijelaskan dalam surat AN – Nahl : 125 : “serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu , dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa dalam menyampaikan ajaran yang benar hendaklah yang pertama dengan metode hikmah yang berarti dengan bijaksana dapat mengenal strata mad’u dan dapat menempatkan sesuatu sesuai keadaan. Lalu yang kedua ialah metode pengajaran yang baik dan yang ketiga adalah metode debat dengan syarat dengan perdebatan yang baik.

9.       Media dakwah
Media dakwah adalah alat yang bersifat objektif yang bisa menjadi saluran untuk menghubungkan ide dengan umat , suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaan nya sangat penting dalam menentukan perjalanan dakwah.
10.  Metodologi penelitian dakwah
Metodologi berasal dari kata methodology maknanya adalah ilmu yang menerangkan metode metode atau cara – cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata re ( mengulang ) dan search ( pencarian ) maka research berarti berulang melakukan pencarian. Dakwah sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki sejumlah lapangan penelitian, sebetulnya belum lama lahir dan dirumuskan. Padahal dakwah sebagai aktivitas dan instrumen penyebaran Islam telah dikenal dalam usia yang cukup lama . Hal demikian dimungkinkan karena pada masa itu, para ahli lebih terfokus pada konsepsi dan sistematisasi ilmu-ilmu induk keislaman. Kesadaran akan perlunya suatu ilmu yang independen dan memiliki ruang dan metode tersendiri mengenai dakwah dan seluk beluknya, mengantarkan kepada lahirnya suatu disiplin keilmuan dakwah.
Sebagai disiplin ilmu yang baru lahir, tentunya ilmu dakwah tetap terikat dengan disiplin-disiplin keilmuan lain yang lebih dulu lahir. Dalam hal metodologis misalnya, ilmu dakwah menilai perlunya mengadopsi konsep dan teori keilmuan yang telah mapan. Hal demikian dimaksudkan agar dakwah sebagai ilmu dapat tetap eksis ditengah pesatnya perkembangan keilmuan modern . Dakwah sebagai ilmu, terbangun dari beberapa bidang keilmuan di antaranya pertama, ilmu sumber seperti ulum al Qur'an dan ulum al hadist serta ragam keilmuan lain yang terkait dengan keduanya, kedua, ilmu dasar teoritik seperti pengantar ilmu dakwah, dasar-dasar ilmu tabligh (KPI), dasar-dasar ilmu bimbingan penyuluhan, manajemen dakwah, dan ilmu pengembangan masyarakat. Ketiga, ilmu teknik yang terdiri dari teknologi tabligh, irsyad (bimbingan), tadbir (manajemen) dan tathwir (pengembangan masyarakat). Keempat, ilmu bantu yang terdiri dari psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, manajemen dan komunikasi. Dalam kaitan penelitian, ilmu dakwah melakukan pendekatan pada sejumlah disiplin keilmuan yang telah mapan, dan pendekatan tersebut difokuskan kepada sejumlah ilmu-ilmu bantu dakwah.

11.  Prinsip – prinsip tabligh dalam Al – qur’an
 Menurut Drs. K.H. Didin hafidhuddin, M.Sc. apabila kita memperhatikan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita akan mengetahui sesungguhnya dakwah menduduki tempat dan posisi utama , sentral , strategis , dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian islam dengan perkembangan zaman , baik dalam sejarah maupun praktiknya , sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yang dilakukan oleh umatnya. Materi dakwah maupun metodenya yang tidak tepat , sering memberikan gambaran dan persepsi yang keliru tentang islam. Tujuan utama dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh oleh keseluruhan tindakan dakwah . Sebagaimana telah dirumuskan ketika pemberian pengertian tentang dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Demi terwujudnya tujuan dari dakwah itu tersendiri maka haruslah seorang selaku yang menyampaikan memiliki dan memahami prinsip tabligh itu sendiri yang terdapat dalam Al-Qur’an sehingga tidak ada kekeliruan baik dalam penyampaian ataupun penerimaan ajaran tersebut. Adapun prinsip tabligh itu sendiri yang dijelaskan dalam Al-Qur’an yaitu antara lain :
Qs. Al-Isra : 53
      Perintah menggunakan bahasa yang baik ( ahsan )
Qs. An-nisa : 114
      Perintah menghindari kalimat yang buruk
Qs. Ibrahim : 25 -26
         Qoulan karima ( perkataan yang baik )
Al-Isra : 25
        Qoulan maysura ( ucapan yang lemah lembut )
Al-Isra : 28
         Qoulan layina ( perkataan lemah lembut )
At-Taha : 44
         Qoulan ma’rufa ( perkataan yang baik )
An-Nisa : 5
        Qoulan ma’rufa ( perkataan yang baik )
Al-Ahzab : 32
         Qoulan baligha ( perkataan yang mengena )
An-Nisa : 63
         Qoulan tsaqila ( perkataan yang berat )
Al-Muzammil : 5
         Qoulan ‘adzima ( perkataan yang besar )
Bila dalam penyampaian nya telah berlandaskan prinsip yang tertera dalam Al-Qur’an maka proses tablig / menyampaikan dapat berjalan dengan lebih efektif sehingga tidak bermunculan kembali kekeliruan terhadap ajaran islam dikarenakan metode yang kurang tepat dan prinsip yang tidak diterapkan dalam tabligh.
Hanya saja dalam penggunaan prinsip tabligh harus dibarengi dengan pribadi muslim yang baik. Apabila kita menyimak gerakan dakwah Rasulullah SAW. Maka pertama kali yang dilakukan adalah membentuk pribadi muslim yang tangguh mulai dari istrinya Siti Khadijah , Ali Bin Abi Thalib , dan sahabat dekat lain nya. Hal ini mengandung pelajaran bahwa berdakwah haruslah mampu menumbuhkan pionir pionir muslim yang tangguh yang pada akhirnya mampu menjadi dinamisator di dalam mayarakat.
12. Tujuan Tabligh
  • Tujuan tabligh adalah mengajak dan menyeru orang lain untuk menjalankan ajaran Islam dengan menjaga iman dan takwa.
  • Dapat dilakukan kapan pun.
  • Tidak ada ketentuan rukun dan syarat-syarat tertentu.
  • Dapat dilakukan dengan cara apa pun.
  • Dapat dilakukan dalam suatu acara, baik formal maupun nonformal.
Selain lima hal di atas, dalam menyampaikan tabligh dan dakwah kepada orang lain, kita tidak boleh memaksa. Islam melarang tindakan pemaksaan kepada orang lain untuk memeluk atau menjalankan ajaran agama. Firman Allah swt dalam Al-Quran
Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat... (Q.S. al-Baqarah: 256)

Seseorang yang hendak melaksanakan tabligh atau dakwah hendaknya memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika seseorang yang berdakwah berakhlak mulia, orang lain akan terdorong untuk mengikuti ajakannya. Jika seseorang sering melakukan perbuatan tercela, orang lain tidak akan tertarik mengikuti ajakannya.

Kesimpulan
Tabligh secara bahasa berasal dari kata ballaga, yuballigu, tabligan yang artinya menyampaikan. Tabligh secara istilah dapat diartikan dengan menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad kepada umat manusia sebagai pedoman hidup dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang menyampaikan tabligh disebut dengan mubalig atau mubaligah. Dalam Al-qur’an, tabligh dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan. . Dakwah bukan hanya dilakukan terhadap orang-orang yang belum beragama tetapi juga dilakukan terhadap orang yang sudah beragama. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 110: Artinya : ” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang kebajikan dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara merek ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imron, 110 ). Dan firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 104: Artinya : “ Hendaklah ada sekelompok orang di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menganjurkan berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Tabligh dapat dilakukan dengan cara bil hal dan bil lisan. Dakwah/tabligh bil hal dilakukan dengan cara membiasakan diri untuk berakhlak terpuji sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dakwah/tabligh bil lisan dilakukan dengan cara menyampaikan dakwah secara lisan kepada masyarakat luas. Dakwah/tabligh bil lisan juga dapat disampaikan melalui koran, internet, radio, televisi, atau media massa lainnya. Metode adalah suatu cara yang di tempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata pikir manusia. Dijelaskan dalam surat AN – Nahl : 125 : “serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu , dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa dalam menyampaikan ajaran yang benar hendaklah yang pertama dengan metode hikmah yang berarti dengan bijaksana dapat mengenal strata mad’u dan dapat menempatkan sesuatu sesuai keadaan. Lalu yang kedua ialah metode pengajaran yang baik dan yang ketiga adalah metode debat dengan syarat dengan perdebatan yang baik.


















REFERENSI

Dr. Acep aripudin , pengembangan metode dakwah.
Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag. , ilmu dakwah perspektif filsafat mabadi ‘asyarah.
Drs. K.H. Didin hafidhuddin, M.Sc., dakwah aktual.
Drs. Abd. Rosyad Shaleh, manajemen da’wah islam.
Psikologi Dakwah, Faizah S.Ag, M.A dan H. Lalu Muchin Effendi, Lc, M.A.
Islam,Dakwah dan Politik, Anonim.
Fiqhud Da’wah, Mohammad Natsir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi Film : HAFALAN SHALAT DELISA

  Identitas Film Judul Film : Hafalan Shalat Delisa Sutradara : Sony Gaokasak Produser : Chand Parwez Servia Penulis Naskah : Arma...